Infoacehtimur.com, Aceh Timur – Upaya penanganan darurat terhadap terputusnya akses jalur Aceh Timur-Gayo Lues melalui Peureulak-Lokop terus menunjukkan perkembangan signifikan. Saat ini, pembukaan kembali jalur provinsi tersebut telah memasuki tahap akhir dan tinggal selangkah lagi untuk dapat terhubung secara fungsional.
Penanganan darurat infrastruktur jalan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Aceh secara bertahap, sebagai bagian dari respons tanggap darurat pascabencana banjir dan tanah longsor. Pekerjaan dilakukan mulai dari kilometer 36 hingga kilometer 103.
“Batas administratif Kabupaten Gayo Lues berada pada kilometer 110, sehingga sisa penanganan yang masih harus diselesaikan sepanjang 6,4 kilometer. Dinas PUPR Provinsi Aceh menargetkan keterhubungan jalur (functional connectivity) dapat dicapai dalam waktu sekitar satu pekan ke depan melalui optimalisasi pengerahan alat berat serta personel lapangan yang bekerja secara intensif setiap hari,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Minggu (11/1/2026).
Selain penanganan dari arah Kabupaten Aceh Timur, pembukaan jalur dilakukan secara paralel dari sisi Kabupaten Gayo Lues. Titik kilometer 110 ditetapkan sebagai titik temu pekerjaan penanganan darurat jalan provinsi ini.
Baca Juga: Bencana Tanah Longsor di Lokop-Pinding, Aktivitas Warga Lumpuh Total
Baca Juga: Bupati Al-Farlaky Sambut Mendagri di Lokop, Paparkan Kondisi Pascabanjir
Jalur Peureulak-Lokop sebelumnya mengalami kerusakan berat dan terputus akibat kejadian banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Sejak saat itu, dilakukan serangkaian kegiatan penanganan darurat berupa pembersihan material longsoran, normalisasi badan jalan, serta pembangunan jalur darurat (temporary access) selama kurang lebih 30 hari.
Namun, pada Senin (5/1/2026), banjir bandang kembali terjadi di kilometer 83, tepatnya di wilayah Gampong Lokop. Peristiwa ini mengakibatkan jalur darurat yang telah dibangun sebelumnya rusak dan kembali terputus, sehingga akses transportasi masyarakat dan distribusi logistik kembali terganggu.
Penanganan darurat lanjutan segera dilakukan dan berhasil memulihkan kembali jalur dalam waktu kurang lebih lima hari. darurat tersebut kemudian dinyatakan dap difungsikan dan dilakukan uii funasi (functional test) pada Sabtu.(10/1/2026).
Namun, setelah dilakukan penanganan darurat lanjutan, jalur dapat dilalui kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan berat jenis DT-Hercules.
Pemerintah berencana untuk menangani jalur nasional ini secara permanen melalui pembangunan infrastruktur jalan yang lebih andal dan berketahanan bencana, dengan mengedepankan prinsip Build Back Better.

