Infoacehtimur.com | Nasional – Indonesia baru saja menyetujui perpanjangan kontrak Freeport dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat McMoRan hingga 2061, sementara Israel masuk ke Halmahera dengan proyek geothermal. Dua keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas pemerintah dalam mengelola sumber daya alam dan diplomasi internasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa perpanjangan kontrak Freeport dilakukan untuk mengantisipasi puncak produksi pada 2035 dan meningkatkan pendapatan negara. Namun, masuknya Israel ke Halmahera dengan proyek geothermal menimbulkan kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan diplomasi internasional.
“Indonesia kini berada di persimpangan sulit, yakni mengejar target energi bersih dengan risiko menabrak prinsip diplomasi, atau tetap menjaga marwah politik luar negeri sekaligus melestarikan lingkungan yang tersisa,” kata seorang pengamat kedai kopi mas jek namanya.
Perpanjangan kontrak Freeport juga menimbulkan pertanyaan tentang kepemilikan saham Indonesia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kepemilikan Indonesia yang kini 51% berpotensi bertambah 12% menjadi 63% pada 2041.
Lantas
– Bagaimana pemerintah akan mengelola hubungan diplomatik dengan Israel dan Amerika Serikat dalam konteks investasi ini?
– Apa dampak lingkungan dari proyek geothermal di Halmahera dan bagaimana pemerintah akan mengantisipasinya?
