Lipsus: Maulana Amri, M.Sos (Sekretaris PWI Aceh Timur)
Infoacehtimur.com – Di ujung timur pesisir Aceh Timur, sekitar 10 kilometer dari jalan lintas Trans Medan–Banda Aceh, terdapat sebuah Gampong yang menyimpan pesona alam luar biasa.
Namanya Gampong Kuala Simpang Ulim, sebuah kawasan pesisir di Kecamatan Simpang Ulim yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil tambak dan perikanan masyarakat.
Perjalanan menuju gampong ini kini tak lagi sulit. Cukup waktu 20 menit melalui Jalan darat yang mulus membuat akses semakin mudah dan cepat. Dari pusat Kota Simpang Ulim, hamparan alam pesisir mulai menyambut setiap pengunjung yang datang.
Udara laut yang segar, aktivitas nelayan, hingga deretan tambak warga menjadi pemandangan pertama sebelum memasuki kawasan ini.
Namun Kuala Simpang Ulim bukan sekadar gampong nelayan biasa.Ia menyimpan sebuah surga tersembunyi yang masih alami dan belum banyak tersentuh tangan manusia. Sebuah pulau kecil dengan bentangan alam yang memikat, bernama Pulau Idaman.
Pulau seluas lebih kurang 18 hektare itu berdiri tenang di kawasan hutan lindung. Dikelilingi kawasan Kuala Malihan di sebelah timur, Sungoe Blah, Sungoe Rusa, Sungoe Ringet hingga Krueng Thoe, pulau ini seperti permata yang tersembunyi di pesisir Aceh Timur.

Keindahan Pulau Idaman Bukan Sekadar Cerita
Hamparan pasir, rindang pepohonan, suara burung liar, dan semilir angin laut menghadirkan suasana tenang yang sulit ditemukan di tempat lain. Alamnya masih perawan. Belum dipenuhi bangunan beton ataupun hiruk pikuk wisata modern.
Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati sensasi wisata alam yang benar-benar alami.
Tak hanya itu, Pulau Idaman juga menjadi habitat penyu yang masih sering ditemukan warga. Pada musim tertentu, penyu-penyu datang bertelur di kawasan tersebut. Sebuah kekayaan alam yang sesungguhnya sangat berharga dan perlu dijaga bersama agar tidak punah. Potensi wisata dan konservasi itulah yang perlahan mulai diperjuangkan oleh masyarakat setempat.
Di balik upaya menjaga kawasan ini, ada sosok sederhana bernama Muchtar Daod. Seorang mantan kombatan GAM yang kini memilih mengabdikan dirinya menjaga pesisir dan membangun harapan baru melalui sektor pariwisata.
Sebagai Panglima Laot Simpang Ulim, Muchtar memiliki mimpi besar. Ia ingin Kuala Simpang Ulim dikenal luas sebagai destinasi wisata unggulan pesisir Aceh Timur.
Menurutnya, wisata bukan sesuatu yang harus dipandang negatif. Jika dikelola dengan baik, wisata justru mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda di kawasan pesisir.
Kepada kami, Muchtar bercerita panjang tentang cita-citanya membangun Pulau Idaman. Ia ingin generasi muda Kuala Simpang Ulim mahir di sektor pariwisata, mampu mengelola potensi daerahnya sendiri, sekaligus mendapatkan penghasilan dari kampung halaman mereka.
Namun perjuangan itu tidak mudah. Ia mengakui pengembangan wisata masih terkendala sarana dan prasarana. Dukungan infrastruktur dinilai menjadi kebutuhan penting agar Pulau Idaman benar-benar siap menerima wisatawan.
“Dulu wisata Pulau Idaman sempat ramai dikunjungi warga. Tapi setelah banjir besar melanda, banyak fasilitas sederhana yang kami bangun rusak parah,” ujar Muchtar.
Sisa-sisa fasilitas yang rusak masih tampak di beberapa sudut pulau. Gazebo sederhana, tempat istirahat pengunjung hingga sarana pendukung lainnya kini membutuhkan perhatian dan perbaikan kembali.
Meski demikian, semangat masyarakat untuk menghidupkan kembali wisata Pulau Idaman justru semakin besar.Dorongan warga agar kawasan itu kembali dibuka terus mengalir.
Bahkan masyarakat kini mulai lebih terbuka terhadap perkembangan wisata. Perlahan, pola pikir masyarakat pesisir mulai berubah bahwa wisata dapat menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan.
Muchtar juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan maupun dinas pariwisata. Bahkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang diisi anak-anak muda setempat telah dibentuk. Namun lagi-lagi, keterbatasan fasilitas membuat banyak program belum berjalan maksimal.
Karena itu, ia berharap ada perhatian lebih serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun sponsor swasta, untuk membantu pengembangan wisata Kuala Simpang Ulim.
“Kami butuh dukungan supaya anak-anak muda di sini bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan dari sektor wisata,” harapnya.
Selain wisata alam, Kuala Simpang Ulim juga dikenal sebagai surga bagi para pemancing.
Setiap akhir pekan, banyak warga dari berbagai daerah datang untuk menikmati sensasi memancing di kawasan pesisir dan sungai sekitar pulau. Aktivitas ini bahkan telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat.
Warga menyediakan jasa penyewaan sampan bagi pengunjung. Dengan biaya sekitar Rp30 ribu, pemancing dapat menggunakan sampan untuk menyusuri spot-spot memancing terbaik di kawasan itu sampai puas tak batas waktu.
“Kalau hari Minggu, sampan sering kurang karena banyak sekali pemancing datang ke sini,” kata Muchtar sambil tersenyum.
Potensi yang dimiliki Kuala Simpang Ulim sesungguhnya sangat besar.Wisata alam, konservasi penyu, wisata memancing, hingga keindahan pesisir menjadi modal utama yang jarang dimiliki daerah lain.
Tinggal bagaimana semua pihak mampu bersinergi agar potensi tersebut benar-benar berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat.Pulau Idaman mungkin masih tersembunyi hari ini.
Namun dengan dukungan, promosi, dan pengelolaan yang tepat, bukan tidak mungkin suatu saat nanti pulau kecil di ujung pesisir Simpang Ulim itu akan menjadi destinasi wisata unggulan Aceh Timur yang dikenal luas banyak orang.(***).

