Infoacehtimur.com | Netizen – Kalau baca dua berita ini berurutan, wajar kalau pembaca sampai geleng-geleng kepala. Empat bulan jaraknya, tapi nada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal rupiah berubah 180 derajat.
Pada Judul pertama agak Pede Setinggi Langit yang di tuliskan oleh CNN Indonesia, Selasa 20 Jan 2026 pukul 19:51 WIB menulis: “Purbaya: Saya Bisa Menguatkan Rupiah dalam Semalam”.
Saat itu rupiah nyaris Rp17.000/dolar AS. Di penutupan 20 Jan 2026, Garuda bertengger di Rp16.956. Purbaya mengaku tahu persis penyebab rupiah tertekan. Katanya, kalau dia turun tangan, “memperbaikinya dua hari, semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan bank sentral”.
Dia lempar bola ke BI: “Anda tanya ke bank sentral, nanti saya dipancing-pancing masuk situ terus lagi. Nanti saya kelepasan, ribut lagi di luar. Kalau saya, tahu alasannya”. Purbaya bahkan heran: dana asing masuk besar ke pasar modal, tapi rupiah tetap melemah.
Kesannya: Menkeu pegang “kunci”, tapi nggak punya kewenangan muter.
dan pada Judul yang kedua Loncat ke Kompas.com, pada Selasa 27 Mei 2026 pukul 10:21 WIB. Mereka menuliska. Judulnya: “Kurs Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.800, Purbaya: Ya Saya Stres”.
Rupiah makin dalam. 26 Mei 2026 ditutup di Rp17.796, turun 53 poin atau 0,29%. Fundamental ekonomi katanya baik, tapi logika itu nggak berlaku di pasar. Ditanya wartawan di Masjid Salahuddin, Kantor DJP, Rabu 27/5/2026, Purbaya cuma bisa melucu: “Ya saya stres”.
Walau stres, dia klaim APBN aman. Asumsi rupiah Rp17.800 sudah masuk simulasi harga minyak USD100/barrel, jadi “tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya”. Pemerintah juga rajin beli SBN biar bond yield turun. Dia janji “ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan”.
*Namun dimana yang membuat Netizen Geleng Kepala? Ini dia, pada 20 Januari: “Saya bisa beresin semalam”. 27 Mei: “Ya saya stres”.
Di antara dua tanggal itu, rupiah justru amblas dari Rp16.956 ke Rp17.796. Janji “semalam selesai” belum ketemu bukti. Yang ada: rupiah nyaris Rp17.800 dan Menkeu mengaku stres.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi bilang pelemahan dipicu geopolitik AS-Iran dan krisis kepercayaan karena rupiah tak kunjung pulih. Efeknya langsung: biaya produksi perusahaan naik, risiko PHK meningkat.
Purbaya memang bukan Gubernur BI. Tapi sebagai Menkeu, kata-katanya jadi barometer pasar. Saat pede, pasar nunggu aksi. Saat stres, pasar nunggu kepastian.
Rakyat cuma bisa geleng: mau percaya yang “semalam beres”, atau siap-siap stres bareng?

