Penguasa Sibuk Saling Tikam, Rakyat Cuma Bisa Menunggu
Di atas sana gaduh. Di bawah sini sesak.
Setiap hari ruang publik kita dijejali berita yang sama: saling tuduh, saling bongkar, saling seret ke meja hukum. Elite sibuk perang narasi. Televisi, media sosial, sampai obrolan warung kopi isinya itu-itu saja.
Sementara itu, di sisi lain…
Ibu-ibu masih menghitung uang belanja di pasar.
Bapak-bapak masih antre melamar kerja yang lowongannya sedikit.
Anak-anak masih sekolah dengan sepatu yang sudah tambalan.
Harga beras, minyak, gas, naik-turun bikin kepala pening. Daya beli melemah, tapi kebutuhan tidak pernah libur.
Yang Rakyat Minta Sebenarnya Sederhana
Rakyat tidak butuh drama politik 24 jam.
Yang mereka tunggu cuma satu: kepastian hidup.
- Kerja yang mudah didapat
- Harga yang masuk akal
- Layanan kesehatan dan pendidikan yang tidak bikin takut
- Negara hadir saat hidup lagi sulit
Penegakan hukum memang wajib. Harus adil, transparan, tanpa tebang pilih. Tapi hukum tidak bisa mengenyangkan perut. Vonis tidak bisa membayar uang sekolah.
Pemerintah yang kuat bukan hanya diukur dari berapa banyak kasus yang dibuka. Tapi dari berapa banyak keluarga yang bisa tidur tanpa cemas besok mau makan apa.
Jangan Bikin Suara Rakyat Paling Pelan
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan elite, suara rakyat sering ketutup. Padahal mereka yang paling merasakan dampaknya.
Rakyat tidak menuntut sempurna. Mereka paham politik itu kotor. Tapi setidaknya, jangan sampai urusan rakyat ditunda hanya karena penguasanya sibuk saling tikam.
Saatnya geser fokus. Dari panggung debat, ke pasar, ke sawah, ke pabrik, ke desa.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa paling jago menyerang di media.
Sejarah akan mencatat: di saat susah, siapa yang benar-benar peduli.

