LAGI-LAGI! 2 Warga Aceh Tamiang Dijebak, Disekap dan Diduga Disiksa di Sarang Penipuan Madagaskar
Infoacehtimur.com | Nasional – Jeratan sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang TPPO kembali memakan korban dari Aceh. Kali ini 2 warga Aceh Tamiang, M. Renza dan Melisa Habib, diduga disekap di Antananarivo, Madagaskar, setelah dijebak dengan iming-iming kerja di Australia.
Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, geram. Ia langsung menyurati KBRI Antananarivo tertanggal 12 Agustus 2026 dan menuntut negara segera turun tangan menyelamatkan.
Modus Klasik: Australia Ujungnya Afrika
Korban berangkat dari Aceh Tamiang dengan janji manis: kerja packing buah, gaji besar di Australia.
Faktanya? Renza dan sepupunya diterbangkan ke Singapura, lalu Dubai, dan terakhir diturunkan paksa di Bandara Antananarivo, Madagaskar.
Sesampainya di sana, mimpi berubah jadi neraka. Renza mengaku dipaksa kerja di perusahaan online scam. Saat minta pulang, ia dipalak 3.200 dolar AS. Alasannya: “ganti biaya berangkat”.
Disekap Polisi, Ada Dugaan Penyiksaan
Situasi makin mencekam. Keluarga mendapat info Renza dan sepupunya sudah diamankan polisi Madagaskar.
Lebih parah, dari kesaksian rekan korban yang lolos, di tempat itu terjadi dugaan penyiksaan brutal. Perempuan-perempuan di lokasi yang sama disebut dilecehkan, disiksa, bahkan disetrum saat ditahan.
“Ini bukan lagi kerja. Ini perbudakan modern. Ini kejahatan kemanusiaan!” tegas Haji Uma.
Haji Uma: Jangan Biarkan Warga Kita Mati di Negeri Orang
Haji Uma mendesak KBRI Antananarivo bergerak cepat. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bertindak.
“Informasi penyiksaan ini sangat mengkhawatirkan. Negara wajib hadir. Pastikan mereka aman, beri perlindungan hukum, dan pulangkan secepatnya. Jangan sampai warga kita jadi korban untuk kedua kalinya,” sentak Haji Uma.
Kuasa Usaha KBRI Antananarivo, Lanang Saputro, mengaku sudah menerima surat dan akan koordinasi dengan pihak Madagaskar. Alasannya: Madagaskar saat ini memang sedang menggerebek jaringan online scammers.
Haji Uma tak mau alasan birokrasi. “Kami apresiasi. Tapi ini darurat. Keselamatan WNI di atas kertas dan prosedur,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, nasib Renza dan Melisa masih belum jelas. Keluarga di Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, hanya bisa menunggu dan berdoa.

