Infoacehtimur.com | Aceh Timur — Sepanjang 1.200 meter pesisir Pantai Matang Rayeuk PP, Kecamatan Idi Timur, Aceh Timur, kini terputus akibat abrasi yang kian parah. Bibir pantai yang dulunya jauh dari permukiman dilaporkan putus dan terkesan terabaikan. Minggu (19/04/2026)
Akibat abrasi ini, bibir pantai, jalan, dan tambak milik warga kini menyatu menjadi laut. Batas antara darat dan air nyaris hilang.
Padahal pada Minggu (26/10/2025) lalu, separuh dari bentangan garis pantai itu dilaporkan telah habis digerus ombak. Sekitar 600 meter di antaranya dalam kondisi paling kritis — air laut sudah menelan sebagian badan jalan desa dan hanya menyisakan jarak beberapa langkah menuju putus total.
Baca Juga: Abrasi Pantai Pelangi, Pemerintah Rencanakan Pemasangan Batu Pemecah Ombak
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Terjang Pantai Pelangi Matang Rayeuk, Aceh Timur
Baca Juga: Banjir Hantam Aceh Timur, 80 Persen Objek Wisata Rusak
“Dulu dari jalan ke bibir pantai itu sekitar 80 meter. Sekarang tinggal beberapa meter saja,” ujar Khaidir, Sekretaris Desa Matang Rayeuk PP, Minggu (26/10/2025).
Saat musim pasang purnama, ombak datang lebih liar. Banjir rob kerap menyapu pesisir hingga memaksa warga berjaga malam. Tanpa pemecah ombak, kawasan itu jadi sasaran empuk gelombang, apalagi ketika angin kencang datang bersamaan dengan pasang tinggi.
Abrasi tak hanya mengikis tanah. Pohon-pohon cemara laut yang dulu berjajar rapat kini tumbang satu per satu, akarnya tercabut dari pasir yang terus tergerus. “Kalau tidak segera ditangani, bisa habis pantainya. Wisata pun lenyap,” kata Khaidir.
Bencana ini bukan baru. Menurut Khaidir, abrasi mulai terasa sejak 2021 dan memburuk dalam lima tahun terakhir. Setiap tahun, dua hingga tiga kali pasang purnama datang bersamaan dengan angin kencang. Titik terparah sepanjang 300 meter bahkan sudah merambah jalan desa.
Di kawasan itu dulu berdiri deretan warung kuliner penopang ekonomi warga sekaligus bagian dari destinasi wisata Pantai Pelangi Matang Rayeuk. Kini hanya tersisa pondasi yang tergerus ombak.
Warga cemas abrasi akan menelan permukiman mereka. Jalan utama desa yang menjadi urat nadi ekonomi pun terancam hilang. “Kami berharap ada tanggapan cepat dari pemerintah. Kalau dibiarkan, desa ini bisa tenggelam pelan-pelan,” tutur Khaidir.

