Infoacehtimur.com – Jika Selat Hormuz adalah pintu maka Selat Malaka adalah gerbang. Patut diketahui untuk disadari bahwa total jumlah volume perdagangan energi minyak dan komoditas dalam jalur laut yang melalui Selat Malaka ternyata lebih banyak, sibuk, dan lebih padat dibanding dalam Selat Hormuz. Kenyataan tersebut diakui oleh Badan Informasi Energi Dunia (EIA).
Meski dataran bumi timur tengah adalah tanah penghasil minyak di dunia, namun selat malaka menjadi gerbang kehidupan pasar perdagangan samudra pasifik menuju samudera hindia, khususnya negara-negara benua asia timur dan asia tenggara seperti Korea Utara, Korea Selatan, China, dan Jepang.
Saat keributan di selat hormuz menunjukkan pengaruhnya terhadap energi dan kehidupan dunia, seharusnya selamat malaka yang sejuk dan damai membuahkan kesejahteraan yang lebih bagi penduduk di daratan sekitar selat malaka, salah satunya Pulau Sumatera.
Selat Malaka merupakan jalur utama paling sibuk bagi 45% minyak mentah yang diangkut melalui laut dan 24% dari seluruh perdagangan maritim global, menjadi pintu gerbang energi untuk separuh Dunia Timur.
Sementara Selat Hormuz memegang peran krusial dimana sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 20% konsumsi minyak dunia, melewati selat ini.
Secara ringkas, Selat Malaka menang dalam jumlah total lalu lintas kargo dan minyak, sementara Selat Hormuz memegang peranan tertinggi dalam dampak geopolitik terhadap pasokan energi global.

