Di balik 19 ton kopi yang berlayar ke Amerika, ada kolaborasi inklusif dengan mitra lokal dan petani. Mereka menjaga kualitas dari kebun hingga pelabuhan. Mereka memastikan setiap butir Triple Pick yang dipetik memenuhi standar internasional. Kolaborasi itu kini menjadi fondasi utama PEMA: menjaga kualitas, kuantitas, dan komitmen.
Tak Berhenti di Sini
Sumatera Noble Coffee KSO tak ingin berhenti di pengiriman perdana. Saat ini, persiapan pengiriman berikutnya sedang berjalan. Pemenuhan kuota ekspor lanjutan dijadwalkan kembali dikirim ke Amerika Serikat pada awal Mei 2026. Keberlanjutan ini menandakan satu hal: kepercayaan pasar internasional terhadap kopi Aceh mulai tumbuh.

“Kami ingin terus melangkah bersama untuk bisa terus menjaga dan membawa kebaikan bagi ekonomi Aceh,” kata Mawardi. Baginya, ekosistem usaha kopi harus melibatkan semua pihak, agar nilai tambahnya dirasakan merata, dari petani di kebun hingga pelaku usaha di kota.
Baca Juga: Aceh Timur Ingin Kelola Sendiri Sulfur PT Medco, Al-Farlaky Harap Dukungan PT PEMA
Baca Juga: Batu Bara Tetap Jadi Primadona Ekspor Aceh
Di tengah kabar ekspor, pasar dalam negeri juga memberi sinyal positif. PEMA berhasil melakukan penjualan lokal ke Medan dengan kuantitas mencapai 21 ton. Capaian ganda ini memperkuat kinerja perdagangan kopi perusahaan secara keseluruhan.
Dari Gayo, kopi berangkat membawa nama Aceh. Ia melintasi samudra, masuk ke pasar Amerika, sekaligus tetap menghidupi pasar domestik. Lewat semangat sinergi dan rasa syukur, PEMA optimistis sektor kopi akan menjadi salah satu pilar penting dalam kebangkitan ekonomi Aceh secara berkelanjutan.
Karena bagi PEMA, setiap biji kopi bukan hanya komoditas. Ia adalah harapan yang dipetik, dijemur, disangrai, dan akhirnya disajikan ke dunia.

