Infoacehtimur.com | Nasional — Dua panggung berbeda. Dua cabang olahraga berbeda. Tapi satu benang merah: nama Aceh dibawa tinggi oleh anak-anak mudanya.
Di Indonesia Arena, Seorang Raksasa Muda Bertarung pada Jumat, 21 November 2025. Indonesia Arena bergemuruh. Final DBL Jakarta 2025 sektor putra mempertemukan SMA Bukit Sion Jakarta dan SMA Jubilee Jakarta di hadapan 15.729 penonton.
Di tengah lapangan, semua mata tertuju pada sosok setinggi 189 cm dengan berat 95 kg. Paniro Azmil Manaf, 15 tahun, putra pasangan H. Muzakir Manaf dan Komalasari. Posturnya menjulang, langkahnya tegas, semangatnya tak terbendung.

Pertandingan berlangsung ketat. Serangan dibalas serangan. Skor rapat hingga detik akhir. Paniro bertarung habis-habisan. Namun papan skor berkata lain: SMA Jubilee harus mengakui keunggulan Bukit Sion 52-60.
Kalah? Di atas kertas, ya. Tapi malam itu Paniro membuktikan satu hal: anak Aceh bisa berdiri sejajar, bahkan jadi pusat perhatian di kompetisi basket pelajar paling bergengsi se-Indonesia. Keringat yang jatuh di lantai kayu Indonesia Arena adalah bukti bahwa mimpi besar lahir dari keberanian bertarung.
Di Sky Rink, Seorang Putri Menari di Atas Es Lima bulan kemudian, 9–12 April 2026. Sky Rink Jakarta, Mal Taman Anggrek. Ajang Skate Jakarta 2026 digelar. Di atas es yang dingin, seorang gadis belasan tahun meluncur.
Namanya Princess Hurrem Nasya Talitha Fadniza, putri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) dan Ernizar. Setiap putaran presisi. Setiap lompatan bertenaga. Setiap pendaratan mulus. Dewan juri terpukau. Penonton tak berkedip.
Ketika pengumuman dibacakan, nama Princess berdiri di puncak: juara satu.
#Dua Cerita, Satu Pesan untuk Anak Aceh
Satu anak kalah di final, satu anak menang di podium. Paniro pulang tanpa trofi, Princess pulang membawa emas. Tapi keduanya pulang membawa hal yang sama: kebanggaan.
Paniro mengajarkan bahwa kalah bukan akhir. Berdiri di final DBL Jakarta, di hadapan belasan ribu pasang mata, adalah bukti bahwa kerja keras mengantar anak Aceh ke panggung nasional. Tingginya mungkin 189 cm, tapi mentalnya jauh lebih tinggi dari itu.
Princess mengajarkan bahwa mimpi tidak harus lahir dari tempat yang sama. Ice skating bukan olahraga yang identik dengan Tanah Rencong. Tapi ia buktikan: dengan tekad, anak Aceh bisa meluncur, melompat, dan jadi yang terbaik bahkan di arena yang paling tak terduga.
Keduanya adalah cermin. Bahwa prestasi tak kenal cabang olahraga. Tak kenal kalah atau menang. Yang penting: berani mencoba, berani bertarung, berani bermimpi.
Untuk setiap anak Aceh yang hari ini sedang berlatih di lapangan kampung, di sudut sekolah, atau di mana pun: lihat Paniro dan Princess. Satu bertarung di lapangan kayu, satu menari di lantai es. Jalan mereka berbeda, tapi arahnya sama — menuju puncak.
Karena dari Aceh, kita bisa. Di mana pun arenanya.