Infoacehtimur.com | Inrernasional – Yoon Suk-yeol, seorang Mantan jaksa yang berperan memenjarakan dua mantan presiden dan pimpinan konglomerat Samsung atas tuduhan korupsi, terpilih sebagai presiden baru Korea Selatan dalam pemilihan umum, Rabu (9/3/2022).
Yoon, seorang konservatif, menggantikan Moon Jae-in, yang tidak bisa lagi mencalonkan diri setelah memerintah dua periode.
Dia terpilih menjadi presiden Korea Selatan setelah unggul hanya satu persen dari saingannya Lee Jae-myung, menunjukkan terbelahnya perpolitikan di Negeri Ginseng.
Sosok Yoon yang tidak lekat dengan dunia politik dilihat sebagai pemandangan baru bagi rakyat Korea Selatan yang tidak puas dengan pemerintahan presiden Moon Jae-in dan Partai Demokratnya yang diguncang sejumlah skandal dan dianggap gagal dalam sejumlah kebijakan.
Baca Juga:
- Bupati Aceh Timur Kick Off Turnamen Sepak Bola Pelajar 2026, 32 Tim Berebut Hadiah Rp100 Juta
- Bupati Aceh Timur Lantik Pengurus MAA 2026-2030, Dorong Peradilan Adat Jadi Solusi Konflik di Gampong
- Satgas PPA Laporkan Dugaan Korupsi Proyek Jalan Elak Aceh Timur Senilai Rp20 Miliar ke Kejati Aceh
- Lepas Kloter 7 di Banda Aceh, Bupati Aceh Timur: Jamaah Haji Orang Pilihan Allah, Doakan Aceh Damai
- Jadi Orator Ilmiah Wisuda Unsam, Bupati Aceh Timur: Wisudawan Harus Siap ‘Tempur’ Hadapi Tantangan Dunia Nyata
“Sampai saat ini, saya tidak pernah membayangkan memasuki politik,” kata Yoon dalam pidato kampanye baru-baru ini. “Tetapi orang-orang menempatkan saya pada posisi saya sekarang, dalam misi untuk menyingkirkan Partai Demokrat yang tidak kompeten dan korup dari kekuasaan.”
Beberapa kalangan menyamakan Yoon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump, terutama dari sisi pandangan dan pengalaman di perpolitikan negara masing-masing.
Dia memiliki sikap yang lebih konfrontatif terhadap beberapa isu luar negeri dibanding pendahulunya, dan telah berjanji untuk menghapus kementerian gender dan keluarga, menyalahkan feminisme atas rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan.
“Yoon seperti Trump,” kata Kim Hyung-joon, seorang ilmuwan politik di Universitas Myongji di Seoul sebagaimana dilansir New York Times. “Dia adalah orang luar yang berlari untuk menggoyahkan kelompok yang berkuasa.”

