Infoacehtimur.com – Akses jalan utama di Dusun SP VI, Desa Arul Pinang, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga menyerupai kubangan lumpur hidup setiap kali musim hujan tiba. Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan ini diakui warga setempat sudah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya penanganan dan pengerasan yang tuntas dari pemerintah daerah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, akses jalan tanah tersebut dipenuhi guratan bekas roda kendaraan yang sangat dalam, licin, dan berlumpur tebal. Jalur ini merupakan satu-satunya urat nadi transportasi masyarakat untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga akses kesehatan.
Keprihatinan mendalam juga diungkapkan oleh Riska Ayunita, seorang mahasiswa rantau yang berasal asli dari Dusun SP VI. Ia merasa miris karena status wilayahnya yang berada di pelosok dan pedalaman seolah membuat daerah ini luput dan sangat jauh dari kacamata pembangunan pemerintah.
Riska bersaksi bahwa sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga kini ia telah menyelesaikan bangku perkuliahan, kondisi jalan tersebut tetap sama sekali tidak berubah. Riska dan masyarakat Dusun SP VI selalu kesulitan dan harus bertaruh keselamatan untuk melewati jalur yang rusak parah tersebut.
Pendidikan dan Perekonomian Terjebak Dalam Jalan Berkubang
Kerusakan jalan yang ekstrem ini juga berdampak langsung pada lumpuhnya sektor ekonomi warga yang mayoritas bergantung pada hasil bumi kelapa sawit. Salah seorang petani sawit setempat, Zikrul, mengeluhkan tingginya biaya operasional dan hambatan logistik yang harus dihadapi warga akibat buruknya akses jalan ini.
“Kalau sudah hujan deras, truk kelapa sawit sering sekali terjebak di tengah jalan. Truk memang masih bisa memuat hasil bumi, tapi prosesnya jadi sangat lama karena harus menunggu bantuan kendaraan lain menyusul untuk menarik truk yang amblas agar bisa masuk ke kampung. Kondisi ini membuat biaya lansir membengkak dan keuntungan panen kami habis hanya untuk biaya jalan,” ungkapnya, pada Jumat (2/10/2026).
Selain ekonomi, akses pendidikan terhambat serius. Warga menyampaikan bahwa para guru SD yang mengajar di Dusun SP VI mayoritas berasal dari luar dusun. Akibatnya, setiap pagi para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus berjuang mati-matian menembus jalanan berlumpur bersama anak-anak sekolah setempat.
Zuhra, seorang siswi yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut menuturkan, “Setiap lewat sini harus ekstra hati-hati karena jalannya sangat licin dan ban motor mudah tergelincir masuk ke kubangan lumpur tebal. Baju atau sepatu sering kotor duluan sebelum sampai ke sekolah, bahkan kadang kami telat karena motor amblas di jalan.”
Masyarakat Dusun SP VI Kecamatan Peunaron sangat berharap adanya tindakan nyata dari Bupati Aceh Timur serta Dinas PUPR Kabupaten Aceh Timur untuk segera menurunkan alat berat guna melakukan pengerasan atau pengaspalan secara bertahap. Warga menaruh harapan besar agar di musim penghujan selanjutnya, mereka tidak lagi harus mengalami dan terjebak dalam kondisi jalan yang menyedihkan seperti ini demi kemajuan serta kemerdekaan infrastruktur di pedalaman Peunaron.

