Infoacehtimur.com, Aceh Timur – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur akan berkoordinasi dengan aparatur gampong serta pihak terkait untuk mendata kawasan rawan konflik antara manusia dan satwa. Hal ini dilakukan untuk mencegah jatuh korban di kemudian hari. Sabtu (28/6/2025).
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyebutkan bahwa ancaman predator sungai membuat sektor ekonomi masyarakat sangat terganggu dalam mencari pempeng (kerang air tawar). Selain menghambat mata pencaharian, serangan buaya dapat berujung pada hilangnya nyawa.
“Krueng Peureulak merupakan salah satu kawasan yang kaya akan kerang air tawar. Kita ingin masyarakat bisa mencari nafkah dengan aman, tanpa mengganggu habitat satwa. Di sinilah pentingnya peran BKSDA,” ujar Bupati.
Ia juga meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh segera turun tangan menangani kasus serangan buaya yang telah meresahkan masyarakat dalam enam bulan terakhir.
Baca Juga: Ditengah Retreat, Bupati Al-Farlaky Peduli Korban Terkaman Buaya
Baca Juga: Warga Aceh Timur Belah Perut Buaya gegara Diduga Terkam Pria Lansia di Sungai
“Kami minta BKSDA segera mengambil langkah penanganan dan pencegahan, termasuk evakuasi satwa liar bila membahayakan keselamatan warga,” tegasnya.
Bupati juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada saat beraktivitas di sekitar sungai yang diketahui merupakan habitat buaya.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menunjukkan kepedulian terhadap musibah yang menimpa seorang warga di Gampong Lubok Pempeng, Kecamatan Peureulak.
Ia mengutus Kadis Dinas Sosial untuk menyerahkan bantuan masa panik kepada keluarga korban.
Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok seperti minyak goreng, telur, mi instan, serta titipan santunan uang duka dari Bupati.
Bantuan itu diantar langsung oleh Plt Kepala Dinas Sosial Aceh Timur, Jamal, dan diterima oleh istri almarhum, Chairani.