PEUREULAK – Jika surga ada di rumah, maka rumah itu bukan milik Aniati.
Perempuan bernama lengkap Aniati (40) ini tinggal di sebuah gubuk yang bahkan untuk disebut rumah saja tak layak. Alamatnya di Dusun Leubok Burah, Desa Bandrong, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.
Dindingnya bolong dimakan usia. Lantainya masih tanah. Atapnya lapuk. Ruang tamu, dapur, dan kamar tidur, semua menyatu tanpa sekat. Jika hujan turun, air masuk dari mana-mana. Jika panas terik, debu tanah beterbangan di dalam rumah.
Di rumah itulah Aniati bertahan bersama dua anaknya yang masih sangat kecil, masih duduk di bangku SD kelas 1 dan kelas 3.
“Rumoh hana layak sagai, na aneuk 2 droe, ubiet-ubiet that mantong, glah 1 dan glah 3,” kata warga sekitar menggambarkan kondisinya dengan bahasa Aceh yang lirih.
*Sakit Kepala Akibat Tekanan Hidup
Aniati lahir tahun 1986. Di usia 40 tahun, ia seharusnya menikmati masa-masa tenang. Namun takdir berkata lain.
Ia kini tercatat sebagai pasien rawat jalan di Rumah Sakit Aceh Timur. Keluhannya: sakit kepala hebat yang tak kunjung sembuh.
Dokter bilang, itu bukan sakit kepala biasa. Itu sakit karena beban pikiran, karena tekanan hidup yang terlalu berat ia pikul sendirian.
Kisah pilu ini diceritakan oleh Nita, relawan perempuan peduli masyarakat miskin di Aceh Timur yang selama ini mendampingi warga dhuafa.
*Ditinggal Suami Nikah Lagi
Luka Aniati bukan hanya soal miskin. Lukanya lebih dalam dari itu.
Suaminya, tempat ia bersandar, tega meninggalkannya demi menikah lagi dengan perempuan lain. Ia pergi, meninggalkan Aniati dengan dua anak yang masih butuh kasih sayang seorang ayah.
Sejak hari itu, Aniati harus menjadi segalanya. Menjadi ibu, menjadi ayah, menjadi tulang punggung keluarga.
Ia tak punya pekerjaan tetap. Tak punya sawah. Tak punya penghasilan.
Untuk makan sehari-hari, ia hanya mengandalkan tenaga menjadi pembantu dan pemberian dari kerabat, sahabat, dan tetangga yang masih setia. Warga Dusun Leubok Burah memang luar biasa. Mereka tak membiarkan Aniati dan anak-anaknya kelaparan, meski hidup mereka pun pas-pasan.
“Mereka kasih beras, kasih ikan, kasih telur. Walau tak mewah, tapi kami bersyukur,” ujar Aniati dengan mata berkaca-kaca.
Ia bersyukur karena orang-orang di desanya belum lupa akan kebaikannya dulu, dan belum tutup mata melihat pahitnya hidup yang ia jalani sekarang.
*Dua Anak Kecil yang Tak Tahu Apa-apa.
Yang paling menyayat hati adalah dua anaknya. Di usia yang seharusnya bermain dan belajar dengan riang, mereka harus merasakan pahitnya hidup di rumah yang tak layak.
Seragam sekolah mereka lusuh. Sepatu mereka robek. Tapi mereka tetap berangkat sekolah setiap pagi, dengan harapan suatu hari bisa mengangkat derajat ibunya.
*Mari Bantu Aniati
Melihat kondisi ini, Sahabat Nita bersama media http://infoacehtimur.com membuka open donasi kemanusiaan untuk Aniati.
Donasi ini akan digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, peralatan dapur, kasur yang layak, dan jika terkumpul lebih, untuk memperbaiki rumah lapuknya agar tak bocor lagi.
Jangan biarkan Aniati berjuang sendirian.
Sedikit rezeki dari kita, adalah harapan besar bagi Aniati dan dua anak yatim yang ditinggal ayahnya.
*Salurkan donasi terbaik Anda melalui:
*Bank Syariah Indonesia (BSI)
*No. Rek: 1052524257
*Atas Nama: NITA ARISKA / +62 822-9446-0045
Konfirmasi donasi bisa menghubungi relawan Nita.
Semoga kebaikan Anda dibalas Allah SWT dengan berlipat ganda.


