Aktivis lingkungan asal Aceh, Zamzami Ali, mendesak pemerintah membuka diri terhadap bantuan internasional untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang asapnya kini sudah sampai ke Aceh, hingga ke sejumlah negara tetangga.
Data resmi SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 202.004 hektare lahan terbakar pada Januari-Juli 2026, naik 69 persen dari tahun lalu. Angka itu belum mencakup Agustus-Oktober. Kalimantan menjadi pusat kebakaran sejak dua bulan terakhir, sementara api dan asap juga dirasakan di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Papua Selatan.
Untuk membayangkan besarnya, luas karhutla tersebut setara sekitar tiga kali luas seluruh wilayah DKI Jakarta yang hanya sekitar 661 kilometer persegi. Kalimantan Barat saja mencatat 38.310 hektare, atau sekitar 58 persen luas Jakarta.
Hitungan independen jauh lebih besar. Auriga Nusantara mencatat sekitar 637.000 hektare hingga Agustus, dan Nusantara Atlas hampir 895.000 hektare. Dampaknya nyata. Asap menyelimuti sejumlah daerah di Aceh sejak 14 Oktober. Di Malaysia, sekolah di Johor ditutup, dan udara Singapura sempat menjadi yang terburuk di dunia.
Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus ISPA di tujuh provinsi sejak 18 Agustus, 63.711 di antaranya dialami oleh balita. CELIOS memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan hingga Rp123,1 triliun untuk Januari-AKarhutl
Baca Juga: YAKATA Minta Panwaslih Tertibkan APK Merusak Lingkungan
Baca Juga: Earth Day 2026, YAKATA Ajak Masyarakat Aceh Timur Cegah Karhutla
Ketua Pengurus Yayasan Konservasi Alam Timur Aceh (YAKATA) ini mengapresiasi kerja puluhan ribu personel dan relawan yang bertugas. Namun ia menilai tiga hal perlu dibenahi. Data harus utuh dan terbuka: angka 639 hektare yang disampaikan BNPB pada 12 Oktober adalah luas yang sedang dipadamkan, bukan total yang terbakar.
Dan kebakaran yang berulang menunjukkan masalah tata kelola gambut dan perizinan, sebab sekitar 36.000 hektare terbakar di wilayah konsesi. Ia mengingatkan bahwa berharap pada hujan tidak cukup. BMKG memperkirakan musim hujan mundur ke November-Desember dan El Nino bertahan hingga awal 2027.
Zamzami Ali mengusulkan pembasahan gambut sebelum puncak kemarau, audit sarana pemadam konsesi, penegakan hukum yang konsisten, serta pendampingan petani agar dapat membuka lahan tanpa bakar.
“Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan, melainkan tanggung jawab agar kerugian kesehatan, pendidikan, dan lingkungan tidak semakin dalam. Seruan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan demi keselamatan bersama,” kata Zamzami Ali.


