Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Sudah sembilan bulan berlalu sejak banjir besar melanda Kabupaten Aceh Timur. Namun proses pemulihan di sektor perikanan dinilai belum tersentuh sama sekali.
Padahal, berdasarkan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Aceh Timur, sektor perikanan mencatat kerusakan dan kerugian tertinggi. Nilainya mencapai lebih dari Rp2,5 triliun, tertinggi dibanding sektor lainnya.
Ribuan hektar tambak ikan dan udang yang tersebar di sejumlah kecamatan mengalami dampak parah. Wilayah terdampak antara lain Madat, Simpang Ulim, Julok, Nurussalam, Darul Aman, dan Peureulak.
Akibat sedimentasi bawaan banjir, tambak-tambak mengalami pendangkalan serius. Petani tambak pun tidak dapat melakukan pembudidayaan secara normal.
Kondisi diperparah dengan pendangkalan alur-alur sungai. Akibatnya air tidak dapat dialirkan masuk maupun keluar secara layak ke area tambak.
“Seharusnya Jadi Prioritas”
Masri, Ketua Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon, menegaskan sektor perikanan seharusnya menjadi prioritas utama pemulihan pascabencana.
“Seharusnya, sektor perikanan menjadi prioritas pemulihan pascabanjir, mengingat sektor perikanan adalah sentra ekonomi masyarakat,” ujar Masri kepada media, Sabtu (22/08/2026).
Ia juga mengkritisi lambatnya laju pemulihan. Termasuk penyaluran bantuan stimulan dan Jaminan Hidup (Jadup) bagi korban banjir yang dinilai belum optimal.
Masri turut menyoroti pembangunan ratusan sumur bor yang kini mencapai 700 unit di Aceh Timur. Menurutnya, sebagian sumur bor tersebut tidak tepat sasaran dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
“Ini bentuk perencanaan yang keliru dan terkesan sarat permainan kepentingan bisnis,” tegas Masri.
Hingga saat ini para pembudidaya tambak masih menunggu kejelasan kapan saluran air akan dikeruk, tanggul diperbaiki, dan bantuan pemulihan usaha disalurkan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menyusun dokumen perencanaan, tetapi benar-benar turun tangan memulihkan sumber penghidupan terbesar warga di daerah ini.


