“Kerbau punya susu, sapi punya nama”
Pepatah lama itu kembali terngiang di Aceh. Maknanya sederhana tapi menusuk: orang yang bersusah payah bekerja, tapi justru orang lain yang menikmati hasil dan pujian.
Di Aceh, kiasan itu terasa dekat. Tanah ini disebut subur dan kaya. Isi perut bumi menyimpan gas, minyak, dan sumber daya alam berlimpah. Tapi warga Aceh sering merasa seperti sapi perah — dimanfaatkan terus untuk menghasilkan keuntungan bagi pihak lain, tanpa timbal balik yang sepadan.
Beberapa waktu lalu, Program Jaminan Kesehatan Aceh [JKA] saja hampir kolaps karena tak sanggup ditopang. Kini, potensi baru muncul: cadangan gas besar ditemukan di Laut Andaman, masih di wilayah Aceh.

Gas Besar, Tapi Rumah Warga Masih Pakai Kayu Bakar
Potensi gas di Blok South Andaman dan Andaman II disebut sangat besar. Pemerintah pusat berencana memproyeksikan gas itu lewat pipa yang menghubungkan Aceh hingga Jawa Timur.
Ironisnya, di Aceh sendiri, banyak warga belum pernah merasakan memasak dengan gas pipa.
Ambil contoh Aceh Timur. Di wilayah ini ada ladang gas alam yang dikelola PT Medco E&P Malaka. Gasnya mengalir lewat pipa menuju Medan. Jaringan gas rumah tangga memang ada, tapi hanya menjangkau beberapa desa.[jargas]
Padahal Aceh Timur punya lebih dari 500 desa. Yang menikmati jargas, hanya sebagian kecil. Sisanya masih mengandalkan LPG 3 kg, kayu bakar untuk memasak.

Proyek Pipa Aceh-Jawa Dikebut
Pemerintah Indonesia kini serius menyambungkan infrastruktur gas dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Jawa. Tujuannya agar gas bumi bisa dimanfaatkan lebih optimal dan harganya lebih terjangkau bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, menyebut penemuan gas di Andaman, Blok Agung I dan II di utara Bali-Lombok, serta Selat Makassar menjadi alasan utama.
“Menyadari bahwa potensi gas di Nusantara ini sangat besar. Pemerintah berupaya keras untuk menyambungkan dari Aceh sampai Jawa Timur,” ujar Tutuka dalam konferensi pers 16 Januari 2024.
Saat ini, pipa ruas Cirebon-Semarang tahap 1 Semarang-Batang sepanjang 62 km sudah selesai. Tahap 2 Batang-Cirebon dan Cirebon-Kandanghaur sepanjang 240 km sedang dipersiapkan lelangnya, dengan target selesai akhir 2025.[Cisem]
Di Sumatera, pipa Duri-Sei Mangke juga sudah masuk tahap feasibility study dan persiapan lelang.
Harapannya: Gas Murah Sampai ke Dapur Rumah
Pemerintah berharap infrastruktur ini membuat harga gas lebih murah untuk industri, kelistrikan, komersial, hingga rumah tangga.
Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha [KPBU] akan digunakan untuk membangun jargas. Targetnya, 300 ribu sambungan rumah di ruas Cirebon-Semarang dan 600 ribu sambungan di ruas Duri-Sei Mangke.
Dari proyek ini, pemerintah memperkirakan penghematan subsidi LPG 3 kg sebesar Rp0,63 triliun per tahun, penghematan devisa impor LPG Rp1,08 triliun per tahun, serta penghematan biaya masak Rp0,16 triliun per tahun.
Pertanyaan yang Tertinggal di Aceh
Bagi warga Aceh, angka-angka itu terdengar menjanjikan. Tapi harapan terbesarnya tetap satu: jangan sampai gas dari tanah Aceh lagi-lagi hanya menjadi “susu” yang dinikmati orang lain.
Ketika pipa Aceh-Jawa nanti selesai, publik menanti apakah rumah-rumah di Aceh Timur, Aceh Utara, dan wilayah penghasil gas lainnya sudah lebih dulu teraliri jaringan gas.
Karena percuma kaya sumber daya, kalau warga di atasnya masih bertanya, “kapan giliran kami memasak pakai gas?”

