Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Di tengah gempuran modernisasi, ada warisan budaya yang tetap bertahan lebih dari 100 tahun. Namanya Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha di Desa Matang Keupula, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur.
Grup ini diyakini sebagai satu-satunya kelompok Rapai Pase / Rapai Uroeh di Aceh Timur yang masih aktif hingga kini. Usianya? Berdiri sejak penghujung abad ke-19.
Sejarahnya dimulai dari sosok Abdul Gani atau Nek Gani. Beliau adalah tokoh yang membawa tradisi Rapai Pase dari Pirak, Aceh Utara ke Aceh Timur.
Cerita turun-temurun menyebut, Nek Gani dan para syekh rapai masuk ke hutan belantara di Alue Mirah, Langkahan, Aceh Utara selama 4 bulan. Tujuannya satu: mencari banie pohon tualang untuk bahan baloh rapai terbaik.
Dari sebatang banie itu dibuat 4 rapai. 3 pecah, hanya 1 yang bertahan. Rapai itu diberi nama Ceureumen Apui / Cermin Api dan kini jadi rapai pusaka paling legendaris.
Lima tahun kemudian, Nek Gani kembali ke hutan. Kali ini berhasil membuat 5 rapai. Bersamaan itu, masyarakat Matang Keupula juga membeli 4 rapai pusaka dari Pirak lewat dana zakat. Namanya: Tualang Tuha, Aneuk Bude Meuh, Emping Buso, dan Boh Keuceubong.
Dari nama Tualang Tuha itulah lahir nama grup hingga sekarang. Saat ini grup dipimpin Iskandar. Estafet sebelumnya dipegang Tarmizi putra Nek Gani, lalu Keuchik Wan / Ridwan.
“Saya tahu cerita tersebut dari paman saya, Tarmizi, anak Nek Gani. Waktu saya usia 15 tahun, beliau sering mengajak saya ikut uroeh,” kata Iskandar, Sabtu (1/8/2026).
Kini grup punya 20 anggota tetap usia 20-40 tahun dan 15 unit rapai. Rapai terbaru bernama Sikureung. Para senior 60 tahun ke atas masih aktif jadi guru.
“Kalau panitia minta 5 rapai kami siap. Kalau hanya 2 rapai biasanya kami pertimbangkan, biar tidak ada kerenggangan di antara awak rapai,” ujarnya.
Grup ini rutin tampil di Pekan Kebudayaan Aceh / PKA dan berbagai uroeh. Hubungan dengan grup rapai di Aceh Utara juga sangat erat. Latihan bersama sering dilakukan dengan awak rapai dari Lhok Merbo dan Baktiya.
Bahkan saat banjir beberapa waktu lalu, semua rapai berhasil diselamatkan. Sebulan kemudian latihan sudah jalan lagi.
“Kami saling membantu. Kalau ada rapai yang rusak atau ganti kulit, semua ikut gotong royong. Tradisi ini tidak mungkin bertahan kalau dijaga sendiri-sendiri,” pungkas Iskandar.
keberadaan tualang tuha jadi bukti nyata: rapai pase bukan sekadar musik, tapi ingatan dan jati diri masyarakat pesisir timur aceh.
[Redaksi Infoacehtimur.com] | Sumber: Serambi Indonesia, Jafaruddin

