Infoacehtimur.com | Aceh – Dari total anggaran Rp 5,1 miliar yang digelontorkan Pemerintah Aceh untuk pemulihan usaha garam rakyat, Kabupaten Bireuen tercatat sebagai penerima alokasi terbesar. Sementara Kabupaten Aceh Timur berada di urutan kedua.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Safrizal, merinci, program ini menyasar 254 petambak di tiga kabupaten yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Besarnya alokasi untuk Bireuen berbanding lurus dengan jumlah petambak terdampak yang paling banyak di sana.
Lalu bagaimana untuk Aceh Timur?
Meski tidak sebesar Bireuen, alokasi Rp 1,29 miliar untuk Aceh Timur dinilai signifikan. Dana tersebut akan digunakan untuk merekonstruksi sarana produksi yang rusak, seperti pembangunan dapur garam, tungku perebusan, dan tunnel garam konsep rumah kaca (greenhouse).
Baca Juga: Perpres Garam Nasional, Luhut Binsar Panjaitan (LBP) Dapat Jabatan Baru
Baca Juga: Modifikasi Cuaca, Pawang Hujan ala BMKG Tabur 12 Ton Garam di Langit Aceh
Dana ini bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah TA 2026.
Menurut Safrizal, bantuan tunnel rumah kaca menjadi kunci. Selama ini, produksi garam rakyat di Aceh Timur dan daerah lain sangat tergantung cuaca. Saat musim hujan, produksi anjlok karena proses pengeringan gagal.
Dengan rumah kaca, proses pengeringan bisa lebih konsisten, kualitas garam lebih putih dan bersih, serta produksi tetap berjalan meski cuaca ekstrem.
“Kami berharap program ini mampu menjaga kuantitas dan kualitas produksi secara berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan petani garam,” kata Safrizal, Minggu (4/10/2026).
Pemerintah Aceh berharap, bantuan ini tidak hanya mengganti alat yang rusak, tapi juga menjadi modernisasi agar usaha garam rakyat di Aceh Timur lebih tahan bencana ke depan.

