Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Mimpi besar tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Terkadang, ia tumbuh dari sebuah gampong sederhana, dibangun melalui ketekunan belajar, doa orang tua, serta keyakinan bahwa kesempatan menuntut ilmu terbuka bagi siapa saja yang mau berjuang.
Itulah perjalanan Muammar Khairunnas HA, pemuda berusia 21 tahun asal Gampong Julok Tunong, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Ia berhasil memperoleh beasiswa Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Bagi Muammar, kesempatan tersebut bukan sekadar keberhasilan akademik. Lebih dari itu, menjadi langkah penting untuk mewujudkan cita-cita yang telah lama tumbuh sejak mengenal Universitas Al-Azhar sebagai salah satu pusat keilmuan Islam terkemuka di dunia.
Ketertarikannya terhadap Al-Azhar berawal dari kekagumannya terhadap tradisi keilmuan Islam yang telah melahirkan banyak ulama besar. Dari sana, muncul keinginan untuk suatu hari dapat belajar langsung di Mesir, memperdalam ilmu agama, sekaligus memperluas wawasan keislaman.
Namun, perjalanan menuju cita-cita tersebut tentu membutuhkan proses.
Menempa Diri dari Bangku Sekolah hingga Dayah
Perjalanan pendidikan Muammar dimulai dari SDN 1 Kuta Binje. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMPS Ulumul Islam hingga jenjang SMA, sebelum akhirnya menempuh pendidikan agama di Dayah MUDI Mesra Samalanga.
Lingkungan pendidikan dayah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektualnya. Di sana, ia terus menempa diri dan memperkuat dasar keilmuan agama sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Keinginannya kuliah di Mesir semakin kuat seiring dengan pemahamannya terhadap posisi Universitas Al-Azhar dalam sejarah pendidikan Islam.
Menurut Muammar, Al-Azhar merupakan salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan terkemuka di dunia, dengan tradisi keilmuan yang sangat kuat. Hal itulah yang membuatnya mantap memilih universitas tersebut sebagai tempat melanjutkan studi.
Melewati Seleksi dan Menjaga Konsistensi
Kesempatan memperoleh beasiswa Kementerian Agama RI tidak datang begitu saja. Muammar harus melewati proses pendaftaran, melengkapi persyaratan administrasi, serta mengikuti tahapan seleksi dan ujian sesuai ketentuan program beasiswa.
Di balik proses tersebut, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Ia mengaku salah satu kesulitan terbesar adalah menjaga konsistensi belajar, mempersiapkan kemampuan diri, serta mengatasi rasa khawatir selama mengikuti proses seleksi.
Namun, tekad untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir membuatnya terus berusaha.
Hingga akhirnya, kabar kelulusan beasiswa menjadi jawaban atas usaha dan doa yang selama ini dipanjatkan.
Kebahagiaan itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya. Orang tuanya, Haji Azhari, juga menyambut kabar tersebut dengan penuh rasa syukur.
Bagi Muammar, doa dan dukungan orang tua merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan pendidikannya.
Memilih Ushuluddin, Akidah dan Filsafat
Di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Muammar berencana mengambil jurusan Ushuluddin, Akidah dan Filsafat.
Pilihan tersebut menjadi bagian dari keinginannya untuk memperdalam pemahaman keislaman, khususnya dalam bidang akidah dan pemikiran Islam.
Ia berharap kesempatan belajar di lingkungan akademik internasional dapat memperkaya wawasan, memperkuat kapasitas keilmuan, serta membentuk dirinya menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Untuk jadwal keberangkatan, Muammar menyampaikan bahwa dirinya masih mengikuti ketentuan resmi yang ditetapkan Kementerian Agama dan pihak terkait.
Membawa Harapan dari Julok untuk Masa Depan Aceh
Bagi seorang anak muda dari daerah, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Ada harapan keluarga, kebanggaan masyarakat, serta tanggung jawab moral untuk membawa pulang pengetahuan yang diperoleh.
Muammar memiliki cita-cita untuk kembali ke Aceh setelah menyelesaikan pendidikan. Ia ingin mengabdikan ilmu yang diperoleh melalui bidang pendidikan, dakwah, dan pengembangan ilmu keislaman.
Pesannya kepada generasi muda Aceh Timur juga sederhana, tetapi penuh makna.
Jangan takut bermimpi besar dan jangan mudah menyerah. Teruslah belajar, berusaha, berdoa, serta meminta restu orang tua.
Ia ingin membuktikan bahwa anak-anak dari daerah juga memiliki kesempatan untuk bersaing hingga tingkat internasional.
Dari Gampong Julok Tunong, sebuah perjalanan menuju Kairo mulai terbuka. Sebuah perjalanan yang bukan hanya membawa nama seorang pemuda, tetapi juga menyimpan harapan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan bagi generasi Aceh Timur untuk menembus batas dan meraih masa depan yang lebih luas.


