Close Menu
    info terkini

    Dijemput Pacar Berujung Mimpi Buruk, Gadis di Aceh Timur Diduga Digilir 6 Pemuda

    Facebook Instagram YouTube
    INFO ACEH TIMUR
    REDAKSI
    • Aceh
      • Info Utama
      • Aceh Tamiang
      • Aceh Utara
      • Kota Langsa
    • Aceh Timur
      • Breaking News
    • Nasional
      • Internasional
      • Beasiswa
      • Autotekno
    • Humaniora
      • Citizen
      • Opini
      • Sejarah
    • DPRK Aceh Timur
    • Info Loker
    • Indeks Berita
    INFO ACEH TIMUR
    Home > FJL Aceh Desak Pemerintah Bertindak Serius: Warga Terus Jadi Korban Konflik Buaya
    Aceh

    FJL Aceh Desak Pemerintah Bertindak Serius: Warga Terus Jadi Korban Konflik Buaya

    RedaksiFebruary 19, 2026
    Share: WhatsApp Facebook Copy Link
    Evakuasi korban konflik satwa buaya di Simeulue, Senin (16/2/2026).(dok.istimewa)
    Share
    WhatsApp Facebook Copy Link

    Infoacehtimur.com, Banda Aceh – Seorang warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, Jusmitawati (36), meninggal dunia setelah diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, Minggu lalu.
    ‎
    ‎Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan alarm keras atas gagalnya penanganan konflik manusia dan satwa liar di Aceh.
    ‎
    ‎Saat kejadian, korban bersama dua rekannya menyusuri sungai untuk mencari kerang. Namun di tengah aktivitas, Jusmitawati tiba-tiba menghilang. Upaya pencarian yang dilakukan teman dan warga tak membuahkan hasil, hingga akhirnya korban ditemukan masih berada di rahang buaya yang muncul ke permukaan sungai.
    ‎
    ‎Video kejadian tersebut menyebar luas dan memicu ketakutan serta kemarahan masyarakat. Peristiwa tragis ini menambah panjang daftar warga yang menjadi korban konflik dengan satwa liar, khususnya buaya muara, yang habitatnya kian sering bersinggungan dengan ruang hidup manusia. Namun ironisnya, langkah pencegahan konkret dari pemerintah masih sangat minim.
    ‎
    ‎Menanggapi kejadian ini, Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan Aceh, Hidayatullah, mendesak pemangku kebijakan agar tidak lagi menunggu korban berikutnya sebelum bertindak.
    ‎
    ‎“Ini bukan kejadian pertama adanya korban manusia dari konflik satwa di Aceh, artinya ada masalah serius dalam tata kelola wilayah dan mitigasi konflik satwa. Kalau pemerintah hanya terus mengimbau warga menjauh dari sungai, lalu di mana solusi jangka panjangnya?” tegas Dayat, sapaan akrab Hidayatullah, yang juga jurnalis BBC Indonesia (17/02/2026).
    ‎
    ‎Dayat menilai, negara seolah melempar tanggung jawab kepada masyarakat, sementara akar persoalan mulai dari kerusakan habitat, perubahan ekosistem, hingga absennya peta wilayah rawan konflik tak kunjung ditangani secara serius.
    ‎
    ‎Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Simeulue, Carles, menyebutkan bahwa langkah sementara yang dilakukan pemerintah hanyalah imbauan agar warga menghindari aktivitas di perairan.
    ‎
    ‎“Kami meminta warga untuk sementara tidak beraktivitas di sungai, muara, atau danau yang terindikasi habitat buaya, seperti mandi, berenang, dan mencuci,” ujarnya.
    ‎
    ‎Selain itu, warga juga diminta lebih waspada pada malam hari, menjaga kebersihan sungai, serta tidak membuang sisa makanan ke perairan karena dapat menarik buaya mendekat. DKP Simeulue juga mendorong pemasangan papan peringatan “Bahaya Buaya” di sejumlah titik.
    ‎
    ‎Namun bagi FJL Aceh, imbauan dan spanduk peringatan tidak cukup. Tanpa kajian ilmiah, patroli rutin, relokasi satwa berbasis konservasi, serta perlindungan nyata bagi warga yang bergantung pada sungai untuk hidup, korban serupa sangat mungkin kembali berjatuhan.
    ‎
    ‎“Manusia dan satwa harus bisa hidup berdampingan dengan aman. Tapi itu hanya bisa terjadi jika pemerintah hadir secara nyata, bukan sekadar memberi larangan,” tutup Dayat.
    ‎
    ‎Tragedi Jusmitawati menjadi pengingat pahit bahwa kelalaian kebijakan bisa berujung pada hilangnya nyawa. Jika tak ada perubahan serius, konflik manusia dan satwa liar di Aceh bukan hanya akan terus berulang tetapi akan semakin mematikan.

    Advertising
    Demo
    FJL Aceh Jurnalis Lingkungan Simeulue
    Demo
    Media Sosial Kami
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • Channel WA
    • Twitter
    • Instagram
    Demo

    Dijemput Pacar Berujung Mimpi Buruk, Gadis di Aceh Timur Diduga Digilir 6 Pemuda

    zakariaMay 20, 2026

    Gadis di Pedalaman Aceh Timur Diduga Jadi Korban Pemerkosaan Bergilir, 7 Orang Diduga Terlibat Infoacehtimur.com…

    Tuduh Orang Lain, Ayah Kandung di Aceh Timur Divonis 220 Bulan Penjara Akibat Rudapaksa Putrinya Hingga Hamil

    May 20, 2026

    Upaya MPA & Disdik Lahirkan Regulasi Pendidikan Mulok Kearifan Aceh Timur

    May 20, 2026
    INFO ACEH TIMUR

    Portal Berita Aceh Timur dan Dunia

    Facebook Instagram YouTube WhatsApp
    terkini

    Dijemput Pacar Berujung Mimpi Buruk, Gadis di Aceh Timur Diduga Digilir 6 Pemuda

    May 20, 2026
    terpopuler

    Dijemput Pacar Berujung Mimpi Buruk, Gadis di Aceh Timur Diduga Digilir 6 Pemuda

    May 20, 2026
    • Beranda
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    Copyright © 2018 - 2026 PT. Info Aceh Utama.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.