Aceh Timur – Siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Simpang Ulim melakukan demo dan mogok belajar, hal itu diduga kuat akibat kepala sekolah Laina Fariyani, S.E., M.M. melakukan penebangan pohon di seluruh sekolah.
Informasi yang diterima Serambi menyebutkan, aksi tersebut disiarkan langsung melalui akun TikTok milik salah seorang siswa, @_razi_26. Dalam siaran itu, para siswa mengeluhkan lingkungan sekolah yang kini gersang akibat pohon-pohon besar ditebanh habAce
Baca Juga: Demo Meluas, Aceh Kondusif Bukan Berarti Masyarakat tidak Peduli
Baca Juga: GAM Gelar Aksi Demo, Tolak Penambahan Batalyon Militer di Aceh
Menurut para siswa pohon-pohon yang sudah tumbuh di sekolah mereka itu sudah berusia 10 hingga 15 tahun sehingga sangat disayangkan tindakan tersebut.
Juga pohon yang besar dan rindang menjadi penyaring udara alami, juga penurun suhu saat panas, dan membuat lingkungan sekolah jadi nyaman
“Kepala sekolah engga mau jumpai kita, dia tebang aja pohon-pohon itu seenaknya,” ucap penyiar live tiktok di akun @_razi_26.
Di akun Razi tersebut juga diposting surat terbuka kekerasan terhadap lingkungan sekolah, dalam surat tersebut menjelaskan bahwa pepohonan ditebang oleh kepala sekolah yang baru yaitu Laina Fariyani, S.E., M.M.
“Kami memahami bahwa beliau memiliki wewenang sebagai pimpinan. Namun, sekolah ini adalah milik bersama. Seharusnya ada rasa saling menghargai dan asas musyawarah dalam setiap pengambilan kebijakan, terlebih yang menyangkut fasilitas dan lingkungan bersama,” tulis akun tersebut.
Ia melanjutkan, “Sangat disayangkan, ketika kami meminta klarifikasi mengenai alasan penebangan tersebut.
Jawaban yang kami terima hanyalah, “Tidak enak dipandang.” Apakah sebuah kebijakan harus didasarkan pada selera pribadi semata? Apakah keindahan di mata satu orang harus mengorbankan kelestarian, keteduhan, dan kenangan yang telah tumbuh bersama pohon-pohon tersebut selama bertahun-tahun?” tambah Akun Razi itu.
Para pelajar saat ini masih berdemo, di kantor guru dan kepala sekolah menuntut penjelasan dan meminta kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penebangan itu.
Serambi mencoba konfirmasi Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Kabupaten Aceh Timur Rahmatsah Putra, S.Pd., M.S.M.
Ia membenarkan kejadian demo itu dilakukan oleh para siswa. Namun ia menjelaskan bahwa penebangan itu atas perintah Cabdin karena pohon tua akar terus membesar dapat merusak fondasi bangunan, memecahkan lantai kelas, dahan-dahan yang sudah melebr dan memebesar merusah atap.
“Siswa salah persepsi, kita sudah meminta guru dan kepala sekolah di sana untuk meredam dan berjumpa dengan mereka, dan menampung apa yang mereka inginkan,” tuturnya.
Sumber: Serambi


