Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Ada pekerjaan yang selesai ketika jam kantor berakhir. Ada pula pekerjaan yang bahkan ketika seseorang sudah pulang ke rumah, pikirannya belum benar-benar pulang.
Damkar, tim SAR dan petugas BPBD termasuk di antaranya.
Saat sebagian dari kita tidur, mereka bisa saja sedang terjaga. Saat sebagian orang berpesta, mereka mungkin sedang menunggu panggilan. Saat sebuah keluarga menangis karena seseorang belum ditemukan, mereka adalah orang-orang yang masuk ke sungai, menyisir hutan, menembus gelap, hujan dan medan yang tak selalu bersahabat.
Kita sering melihat mereka ketika bencana sudah terjadi.
Yang jarang kita lihat adalah kehidupan mereka di antara satu panggilan dan panggilan berikutnya.
Secangkir Kopi yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang
Sesekali kita menjumpai mereka duduk bersama. Bercanda, mengobrol atau menikmati secangkir kopi.
Dari kejauhan terlihat seperti orang-orang yang sedang beristirahat.
Namun telepon genggam mereka tetap berada dalam jangkauan.
Sebab sebuah dering dapat mengubah suasana dalam hitungan detik.
Dari duduk menjadi berdiri. Dari bercanda menjadi serius. Dari secangkir kopi menuju mobil penyelamatan.
Informasinya bisa apa saja.
Rumah terbakar.
Banjir datang.
Orang hilang.
Kecelakaan.
Seseorang hanyut.
Ada warga terjebak.
Atau kabar pendek yang terdengar sederhana di telepon, tetapi sesungguhnya sedang menjadi hari paling berat bagi sebuah keluarga.
Maka kopi yang belum habis harus ditinggalkan.
Mereka Mencari Seseorang yang Bahkan Mungkin Tidak Mereka Kenal
Ada sisi pekerjaan penyelamatan yang tidak bisa dihitung dengan seragam, kendaraan ataupun peralatan.
Yaitu perasaan.
Ketika seseorang dilaporkan hilang, bagi petugas mungkin nama korban baru pertama kali mereka dengar.
Namun ketika pencarian berlangsung berjam-jam, nama itu terus disebut.
Foto korban dilihat berkali-kali. Lokasi terakhir dipelajari. Sungai disisir. Semak diperiksa. Informasi warga dikumpulkan.
Perlahan, orang yang sebelumnya tidak mereka kenal menjadi seseorang yang harus ditemukan.
Di tepian lokasi pencarian ada keluarga yang menunggu.
Mata mereka mengikuti setiap petugas yang kembali.
Setiap kendaraan yang datang menimbulkan harapan.
Setiap telepon berbunyi membuat jantung berdebar.
Petugas melihat semua itu.
Mereka mungkin tidak memperlihatkannya, tetapi manusia tetaplah manusia.
Di balik seragam itu ada hati yang diam-diam ikut bertanya:
“Bagaimana kalau yang hilang itu keluarga saya?”
Beban Itu Terkadang Ikut Pulang
Ketika operasi dihentikan sementara karena malam, cuaca atau kondisi lapangan, bukan berarti semua pikiran ikut berhenti.
Tubuh mungkin pulang.
Tetapi sebagian pikiran masih tertinggal di lokasi pencarian.
Di rumah, ada istri yang mengetahui suaminya sewaktu-waktu harus pergi.
Ada suami yang memahami istrinya sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Ada anak yang mungkin bertanya kapan ayah atau ibunya pulang.
Dan ada keluarga petugas yang juga menunggu kabar.
Ketika seorang petugas masuk ke sungai deras, mendekati bangunan terbakar atau memasuki lokasi berbahaya, bukan hanya dirinya yang mengambil risiko.
Di rumah, ada orang yang mencemaskannya.
Karena itu kalimat sederhana ini mempunyai arti yang dalam:
Suami bekerja, istri ikut merasakan. Istri bertugas, suami ikut mencemaskan. Orang tua bertugas, anak-anak ikut menunggu.
Mereka yang berada di rumah mungkin tidak mengenakan seragam, tetapi dalam banyak keadaan ikut menanggung konsekuensi dari pekerjaan tersebut.
Mereka Datang Ketika Orang Lain Berusaha Menjauh
Naluri manusia ketika melihat api adalah menjauh.
Petugas Damkar justru mendekat.
Ketika banjir semakin tinggi, kebanyakan orang mencari tempat aman.
Tim penyelamat justru masuk membawa perahu.
Ketika seseorang hilang di sungai, orang-orang berharap korban segera ditemukan.
Tim SAR-lah yang harus turun mencarinya.
Mereka datang bukan karena tidak takut.
Keberanian bukan berarti seseorang kehilangan rasa takut.
Keberanian adalah memahami risiko, mempersiapkan diri, lalu tetap menjalankan tugas ketika keselamatan orang lain membutuhkan pertolongan.
Ada Pencarian yang Berakhir Bahagia, Ada yang Membawa Duka
Tidak semua operasi penyelamatan mempunyai akhir yang kita inginkan.
Ada korban ditemukan selamat.
Tangis berubah menjadi syukur.
Petugas bisa pulang membawa kabar yang telah ditunggu keluarga berjam-jam bahkan berhari-hari.
Tetapi ada pula pencarian yang berakhir dengan keheningan.
Korban ditemukan, tetapi tidak lagi dapat kembali dalam keadaan hidup.
Pada saat seperti itu, tugas mereka berubah.
Dari berharap menyelamatkan kehidupan menjadi membantu sebuah keluarga mendapatkan kepastian.
Itulah sisi penyelamatan yang mungkin paling berat.
Mereka harus tetap bekerja ketika di hadapan mereka ada orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, atau seseorang kehilangan pasangan hidupnya.
Setelah semuanya selesai, petugas kembali.
Besok atau beberapa jam kemudian, telepon mereka mungkin kembali berbunyi.
Dan pekerjaan dimulai lagi.
Datang untuk Menolong, Jangan Sampai Harus Ditolong
Ada satu hal yang tidak boleh hilang di balik romantisasi keberanian para petugas penyelamat: keselamatan mereka sendiri.
Masyarakat membutuhkan mereka kembali dengan selamat.
Keluarga mereka juga menunggu mereka pulang.
Karena itu keberanian harus selalu berjalan bersama prosedur, perlengkapan, latihan, koordinasi dan perhitungan risiko.
Jangan sampai keinginan menyelamatkan seseorang membuat penyelamat menjadi korban berikutnya.
Mereka datang mencari.
Mereka datang menyelamatkan.
Mereka datang menjadi penolong.
Jangan sampai mereka justru berubah menjadi orang yang harus ditolong.
Peralatan yang memadai bukan kemewahan bagi mereka.
Kendaraan yang layak bukan sekadar fasilitas.
Alat pelindung diri, perahu, perlengkapan komunikasi, alat pemadam, pencahayaan, perlengkapan pencarian dan pelatihan bukan pengeluaran yang bisa dianggap sepele.
Semua itu adalah investasi agar orang-orang yang dikirim menyelamatkan masyarakat dapat kembali dengan selamat kepada keluarganya.
Mereka Bukan Manusia Tanpa Rasa
Kita mungkin mengenal mereka sebagai Damkar, SAR atau BPBD.
Tetapi sebelum semua nama institusi itu, mereka adalah manusia.
Mereka bisa lelah.
Mereka punya keluarga.
Mereka bisa takut.
Mereka bisa sedih.
Mereka juga dapat membawa pulang bayangan dari apa yang mereka lihat di lapangan.
Namun ketika panggilan berikutnya datang, seragam kembali dikenakan.
Mesin kendaraan kembali dinyalakan.
Dan mereka kembali pergi.
Bukan selalu untuk seseorang yang mereka kenal.
Bisa jadi untuk Anda.
Untuk saya.
Atau untuk keluarga yang bahkan belum pernah mereka temui sebelumnya.


