Infoacehtimur.com | Aceh – Suasana Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh tahun 2026 terasa berbeda. Jika biasanya hanya dipenuhi aroma kuah beulangong dan lantunan zikir, tahun ini perayaan Maulid juga diwarnai perbincangan soal bendera.
Perayaan Maulid di Aceh memang tidak sehari. Ia dirayakan selama tiga bulan penuh, sebuah tradisi yang dijaga turun-temurun: Rabiul Awal yang disebut Buleuen Molod atau Maulid Awal, dilanjutkan Rabiul Akhir atau Buleuen Adoe Molod (Maulid Tengah), dan ditutup Jumadil Awal atau Buleuen Molod Seuneulheuh (Maulid Akhir).
Pembagian tiga fase ini bukan tanpa makna. Agar setiap gampong bisa bergiliran menggelar khanduri molod tanpa berbenturan waktu, agar silaturahmi bisa merata dari satu desa ke desa lain.
Namun di tengah kekhidmatan itulah, muncul satu objek yang menjadi sorotan: Bendera Bintang Bulan. Bendera yang berkibar di beberapa lokasi acara Maulid, berbeda dari Sang Merah Putih, terekam video dan foto, lalu beredar luas di media sosial.
Berdasarkan informasi yang beredar, ketegangan sempat terjadi saat aparat TNI yang hadir di lokasi acara meminta agar bendera tersebut diturunkan dari sekitar panggung. Permintaan itu memicu reaksi warga dan panitia, suasana yang tadinya khidmat sempat menegang.
Bagi sebagian warga, Bendera Bintang Bulan adalah simbol identitas. Secara hukum, keberadaannya memang memiliki pijakan khusus di Aceh, diatur dalam Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh, yang merupakan turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan MoU Helsinki 2005.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri pernah memberikan catatan terkait kesesuaian Qanun tersebut dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Penggunaannya pun diatur ketat dan tidak boleh disamakan kedudukannya dengan Bendera Merah Putih sebagai bendera nasional.
Aparat keamanan sendiri dalam berbagai kegiatan di Aceh kerap melakukan penertiban atribut demi menjaga ketertiban dan mencegah kesalahpahaman.
Maulid di Aceh pada akhirnya selalu tentang kebersamaan. Tentang bagaimana warga berkumpul, makan bersama, dan mengenang Rasulullah. Semoga khidmatnya Maulid tetap terjaga, dan setiap perbedaan dapat disikapi dengan dialog yang sejuk.


