Oleh: Jabbar, AMIPR
ACEH – Di tengah sorotan publik yang sering hanya melihat ketegangan antara aparat dan massa aksi, ada sisi humanis Polri yang kerap luput dari perhatian. Di lapangan, polisi tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga memastikan hak masyarakat untuk bersuara tetap terlindungi.
OPINI – Unjuk rasa adalah bagian dari kehidupan demokrasi yang dijamin negara. Melalui aksi, masyarakat menyampaikan aspirasi, kritik, maupun harapan terhadap berbagai persoalan. Kehadiran aparat kepolisian hampir selalu menjadi pusat perhatian. Banyak yang memandang polisi sebatas penjaga keamanan dengan wajah tegas di lapangan. Padahal, di balik tugas itu ada sisi humanis yang jarang terlihat.
Polisi hadir dalam pengamanan unjuk rasa bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat. Kehadiran mereka bertujuan memastikan aksi berlangsung aman, tertib, dan tidak merugikan masyarakat luas. Negara memberi ruang bagi warga menyuarakan aspirasi, sementara polisi mengawal agar ruang demokrasi itu tetap berjalan sesuai aturan.
Dengan begitu, polisi dan demonstran sejatinya bukan dua pihak yang saling berhadapan. Keduanya sama-sama bagian dari proses demokrasi.
Hal ini terlihat dalam aksi penyampaian aspirasi terkait program Jaminan Kesehatan Aceh di Kantor Gubernur Aceh. Masyarakat datang membawa harapan dan kegelisahan terhadap pelayanan kesehatan. Di sisi lain, aparat kepolisian hadir memastikan aksi berlangsung aman dan tertib.
Di lapangan, pendekatan persuasif dan komunikasi menjadi senjata utama. Personel polisi berdiri berjam-jam di bawah terik matahari maupun hujan demi menjaga situasi tetap kondusif. Mereka mengatur jalannya aksi, memberi ruang bagi penyampaian aspirasi, hingga memastikan keselamatan peserta demonstrasi.
Bahkan dalam kondisi penuh tekanan dan provokasi, aparat dituntut menahan diri dan mengedepankan tindakan profesional serta terukur. Publik sering hanya melihat potongan peristiwa yang menampilkan ketegangan. Padahal, banyak anggota Polri bekerja dengan pendekatan kemanusiaan: membantu peserta aksi yang kelelahan, menjaga fasilitas umum agar tidak rusak, dan memastikan demonstrasi tetap tertib.
Hal-hal kecil ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan ketertiban umum.
Di sisi lain, unjuk rasa juga butuh kedewasaan dari peserta. Menyampaikan pendapat tidak harus dengan tindakan anarkis atau provokasi yang memicu kericuhan. Ketika demonstran dan aparat sama-sama saling menghormati, demokrasi akan berjalan lebih sehat dan bermartabat.
Sudah saatnya masyarakat melihat pengamanan unjuk rasa secara utuh. Polisi bukanlah musuh rakyat, melainkan bagian dari negara yang bertugas mengawal demokrasi. Di balik barisan pengamanan itu, ada sisi humanis aparat yang bekerja menjaga keamanan sekaligus melindungi hak masyarakat untuk bersuara.
Dengan saling memahami peran masing-masing, unjuk rasa bukan hanya ruang penyampaian aspirasi. Ia menjadi cerminan kedewasaan berdemokrasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

