Infoacehtimur.com | Subulussalam — Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai. Peribahasa itu biasanya menggambarkan orang yang merantau dan pulang membawa pengalaman serta wawasan luas. Tapi bagi seorang pria asal Aceh Timur, merantau justru membuatnya kehilangan arah dan terdampar di negeri orang.
Sebut saja Plitur (Pria Aceh Timur), bukan nama sebenarnya. Ia mengaku berasal dari Aceh Timur dan sudah berada di Kota Subulussalam sejak dua bulan lalu. Awalnya ia datang bersama seorang rekan. Namun rekan itu pergi, meninggalkan Plitur seorang diri hingga telantar dan hidup menggelandangan di jalanan.
Puncak keresahan warga terjadi di Kecamatan Penanggalan. Menurut penuturan warga, Plitur kerap mendatangi warung untuk meminta rokok, makanan, dan minuman tanpa membayar. Yang membuat situasi semakin mencekam, ia sering melontarkan ancaman kepada pemilik warung dan warga yang melintas. Ketakutan pun menyebar di lingkungan tersebut.
Baca Juga: Kapolda Aceh Diminta Tangani Kasus Penembakan ODGJ dengan Transparan
Baca Juga: Tercatat 1.198 ODGJ di Aceh Timur, 12 Diantaranya Dipasung
Menindaklanjuti laporan masyarakat, personel Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Kota Subulussalam bergerak cepat. Jumat, 15 Mei 2026, pria yang diduga mengalami gangguan jiwa atau ODGJ itu diamankan tanpa perlawanan berarti.
Evakuasi dilakukan untuk mencegah konflik fisik dengan warga sekaligus menjaga ketertiban umum di kawasan Penanggalan.
“Benar, tim di lapangan telah mengamankan seorang pria yang diduga ODGJ karena perilakunya sudah meresahkan warga di Penanggalan. Saat ini yang bersangkutan sudah berada di Mako Satpol PP untuk memastikan keamanan lingkungan,” kata Kabid Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP dan WH Kota Subulussalam, Mulyadi Cibro.
Saat ini Plitur ditempatkan sementara di sel tahanan Mako Satpol PP. Pihak Satpol PP dan WH telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Subulussalam untuk proses serah terima dan penanganan medis lebih lanjut.
Kisah Plitur menjadi pengingat pahit bahwa merantau tanpa bekal, tanpa tujuan, dan tanpa sandaran bisa berakhir dengan tersesat. Dari perantau yang mencari hidup, ia justru menjadi orang yang hidupnya dipertaruhkan di jalanan orang.

