Infoacehtimur.com | Nasional — Nama PM Toh mungkin sudah tak asing bagi generasi 70-80an di Aceh. Gaya bercerita ekspresif meniru deru mesin bus PMTOH yang legendaris pernah jadi tontonan wajib di panggung rakyat. Kini, seniman pendongeng asal Aceh, Agus Nur Amal PM Toh, akan membawa kembali ruh seni tutur itu ke panggung nasional lewat pertunjukan _Kisah dari Samudera_ di Art Jakarta Gardens 2026, 5–10 Mei di Hutan Kota by Plataran, Jakarta.
Lewat Kisah dari Samudera, Agus Nur Amal mengangkat storytelling sederhana tapi kuat. Ia menggunakan benda-benda sehari-hari untuk membangun narasi tentang kemanusiaan, konflik, hingga proses penyembuhan.
“Cerita bukan hanya untuk menghibur, tapi juga untuk membuka ruang refleksi,” kata Agus. Pertunjukan ini menyelami mitologi Aceh, isu sosial, hingga ekologi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Harapan di Balik Dinding Bolong: Kisah Keluarga Ibu Supiana
Baca Juga: Dibalik Dinding yang Runtuh: Kisah Mariana dan Bayinya Mencari Harapan
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade dan 700+ pertunjukan, Agus dikenal sebagai seniman yang berhasil mengembangkan seni tutur PM Toh ke ranah kontemporer tanpa kehilangan akar tradisinya.

Tgk Adnan PMTOH dan Agus PMTOH
PM Toh sendiri merujuk pada dua maestro seni tutur Aceh. Tgk Adnan PM Toh dari Aceh Selatan, troubadur Aceh yang mempopulerkan nama “PMTOH” dari Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan di belakang namanya. Ia wafat pada 2006 dan menjadi ikon seni tutur Aceh yang penuh suara dan tawa.
Sementara Agus Nur Amal PM Toh, lulusan IKJ, adalah penerus yang melakukan riset mendalam agar seni tutur ini tetap relevan. Gaya interaktif, humor, dan suara mesin bus khas Aceh jadi ciri khas yang membedakannya.
Memasuki edisi kelima, Art Jakarta Gardens 2026 akan melibatkan 26 galeri dari dalam negeri hingga Asia. Kehadiran PM Toh jadi warna tersendiri karena membawa seni tradisi Aceh ke ruang seni rupa modern yang terbuka.
Bagi generasi 90an ke atas, nama PM Toh mungkin samar. Tapi bagi warga Aceh, suara mesin bus dan gaya sindiran sosial PM Toh adalah memori kolektif yang melekat. Kini, memori itu kembali dihidupkan untuk audiens baru.
Jika ada yang salah mohon maaf kami, dan bantu kami memperbaiki tulisan ini.