Di sudut selatan timur Kabupaten Aceh Timur, sekitar 35 kilometer dari pusat pemerintahan, berdiri sebuah madrasah yang kini berjuang dalam sunyi—MAN 3 Aceh Timur. Pasca banjir besar yang melanda akhir tahun lalu, madrasah ini menjadi salah satu yang terdampak paling parah.
Air bah tidak hanya merendam ruang kelas, tetapi juga melumpuhkan sarana pembelajaran. Meja dan kursi siswa rusak berat, lemari hancur, ruang guru kehilangan tempat beristirahat yang layak. Empat rombongan belajar hingga kini masih belajar di lantai. Anak-anak duduk bersila menulis dengan alas seadanya. Guru-guru pun beristirahat di lantai, menahan lelah dalam keterbatasan.
Ironisnya, di sekelilingnya berdiri sekolah-sekolah besar seperti SMAN Ranto Panjang dan dua SMK negeri di wilayah yang sama. Namun di antara bangunan-bangunan yang kokoh itu, MAN 3 Aceh Timur seolah menjadi potret sunyi dari perjuangan yang belum sepenuhnya terdengar.
Rapat demi rapat telah kami hadiri.
Laporan demi laporan telah kami serahkan.
Data kerusakan, dokumentasi, rincian kebutuhan—semuanya telah kami penuhi sesuai permintaan.
Namun hingga kini, menjelang penerimaan siswa baru, bantuan yang benar-benar kami terima baru sebatas cangkul dan alat-alat kebersihan lainnya. Kami bersyukur atas itu, karena membersihkan sisa lumpur adalah langkah awal untuk bangkit. Tetapi untuk memulihkan pembelajaran, itu tentu belum cukup.
Komputer dan laptop yang rusak terendam belum terganti.
Infocus tak lagi menyala.
Perangkat elektronik penunjang pembelajaran hilang fungsinya.
Alat praktik IPA, perlengkapan kesenian, hingga sarana olahraga ikut hancur bersama derasnya banjir.
Kini, menghadapi tahun ajaran baru, terselip kekhawatiran yang tak dapat kami sembunyikan. Kami takut kepercayaan masyarakat perlahan berpaling. Kami cemas orang tua ragu menyekolahkan anaknya di MAN 3 Aceh Timur karena fasilitas yang belum memadai. Padahal yang rusak adalah bangunannya, bukan semangat gurunya. Yang terendam adalah peralatannya, bukan tekad pendidikannya.
“Sampai kapan kami harus menunggu?”
Menunggu perhatian yang benar-benar hadir.
Menunggu bantuan yang menyentuh kebutuhan utama.
Menunggu agar anak-anak kami kembali belajar dengan layak dan bermartabat.
Akhirnya, saya Sanusi, M.Pd, selaku Kepala Madrasah yang tidak pernah ke Jakarta, yang tidak pernah menginjakkan kaki di gedung Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui tulisan sederhana ini memohon dengan segala kerendahan hati kepada Bapak Kasubdit Saspras KSKK Kementerian Agama Republik Indonesia kiranya dapat segera melihat dan mengatasi kendala yang kami hadapi di lapangan.
Kami tidak menulis untuk mengeluh.
Kami tidak bersuara untuk menyalahkan.
Kami hanya ingin memastikan bahwa anak-anak di pelosok Aceh Timur memiliki hak yang sama untuk belajar dengan fasilitas yang layak, sebagaimana saudara-saudara mereka di tempat lain.
Karena pendidikan adalah amanah.
Dan amanah itu kini sedang kami jaga, meski dalam keterbatasan.
Semoga suara kecil dari pinggiran ini dapat sampai ke pusat, dan harapan yang lama menunggu akhirnya menemukan jawabannya.

