Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Kabid Kebudayaan Aceh Timur Suriadi baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa: “Sang Raksasa” botani berdiri megah di tanah para leluhur raja.
Ya, Amorphophallus gigas alias bunga bangkai jangkung, tanaman langka yang tongkolnya menjulang tinggi seperti tombak, tumbuh tepat di kawasan Gampong Buket Kareng, Alue Ie Mirah, Kecamatan Pante Bidari.
Yang bikin merinding: bunga raksasa ini tumbuh bersebelahan langsung dengan Kompleks Makam Meurah Malik Ahmad. Beliau adalah ayahanda Sultan Malikussaleh, raja pertama Kesultanan Samudra Pasai – awal mula peradaban Islam di Nusantara.
Temuan ini terungkap Senin 22 Juni 2026 saat Tim Cagar Budaya melakukan kunjungan lapangan. Diduga ini kali pertama bunga bangkai jangkung tercatat tumbuh di Kabupaten Aceh Timur.
Baca Juga: Dinas Pendidikan Aceh Imbau Sekolah Tidak Wajibkan Wisuda
Baca Juga: Pendidikan Kepemimpinan dan Penandatanganan MoU Pramuka Aceh Timur bersama Instansi Pemerintah
Saat ini “Sang Raksasa” sedang fase menuju mekar sempurna. Tim di lapangan memperkirakan bunga akan mekar penuh 1-2 minggu ke depan. Begitu mekar, baunya khas “bangkai” akan keluar untuk menarik penyerbuk – tapi visualnya dijamin spektakuler.
Gercep menindaklanjuti temuan, Kabid Kebudayaan Suriadi langsung turun ke lokasi untuk pemantauan. Tujuannya jelas: mencegah kerusakan dan gangguan pada bunga langka ini.
Suriadi menyebut Buket Kareung bukan situs biasa. “Makam di Buket Kareung ini sudah lama dikenal masyarakat sebagai makam Meurah Malik Ahmad, ayah dari Sultan Malikussaleh. Ini warisan sejarah yang sangat berharga bagi bangsa Aceh,” ujarnya saat meninjau lokasi.
Keberadaan bunga bangkai di area makam ini punya nilai dobel. Dari sisi biologi, ini kekayaan flora langka. Dari sisi sejarah, ini menambah aura magis kawasan yang sudah jadi saksi lahirnya Kesultanan Samudra Pasai.
Buket Kareung kini jadi sorotan. Di satu sisi menyimpan jejak awal Islam Nusantara, di sisi lain “menghadiahkan” salah satu tumbuhan paling langka yang jarang muncul di Aceh Timur.
Rasanya magis memang. Alam dan sejarah berpadu, seolah Buket Kareung ingin bilang: “Di tanah ini, yang langka selalu lahir dari yang agung”.


