Infoacehtimur.com, Banda Aceh – Pemerintah Aceh berkomitmen mengoptimalkan potensi migas di kawasan Andaman melalui pengembangan industri hilir demi memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menegaskan bahwa pemanfaatan potensi Minyak dan Gas yang besar harus diimbangi perencanaan matang, agar dampaknya dirasakan oleh masyarakat, tidak sekadar mengandalkan dana bagi hasil.
Sebelumnya warga Aceh telak menolak Dokumen Rencana Pengembangan Blok Andaman oleh Menteri ESDM RI yang mengatur Bagi Hasil Produksi Migas Andaman 96 persen untuk Kontraktor, 2,8 persen untuk Pemerintah RI, dan 1,2 Persen untuk Aceh.
Blok Andaman diminta menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Aceh. “Mengembangkan sumber daya manusia, dan kemanfataan lainnya. Karena itu, perlu perencanaan yang matang. Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan,” kata Muallem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr Nurlis Effendi, Rabu (1/7/2026).
Melalui Juru Bicara Nurlis Effendi, Pemerintah Aceh intens menggelar rapat koordinasi untuk menyusun strategi pengolahan dilakukan didalam daerah, atau sering disebut hilirisasi. Fokus utama hilirisasi untuk memicu lahirnya industri baru, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas SDM lokal.
Kawasan Migas Andaman memiliki enam wilayah kerja migas. Pengembangan Blok Andaman dimulai dari Lapangan Gas Tengkulo (South Andaman) yang dikelola oleh Kontraktor Migas, Mubadala Energy.
Separuh Potensi Gas Tengkulo Masih Nganggur
Potensi Produksi Gas: Lapangan Tengkulo diperkirakan memproduksi 300 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Sebesar 160 MMSCFD sudah berkomitmen dijual ke PLN, sehingga sisa kuotanya harus menjadi potensi besar untuk mendukung pengembangan industri baru di Aceh.
Gas di WK Tengkulo 1 juga menghasilkan 7.500 barel kondensat per hari dan Methanol. Kandungan tersebut dapat diolah menjadi nafta, kerosin, hingga gasoline, membuka peluang pembangunan kilang pengolahan (refinery) baru di Aceh.
Untuk mendukung keberhasilan ini, Pemerintah Aceh menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja lokal melalui pendidikan vokasi. Mubadala Energy diharapkan turut berkontribusi dalam melatih masyarakat Aceh agar siap mengisi peluang kerja yang tercipta, sehingga hilirisasi ini mampu menjadi penggerak transformasi ekonomi yang berkelanjutan.


