Penulis: M. Farhan Abdillah
ACEH TIMUR – Bagi seorang pasien gagal ginjal, jarak menuju rumah sakit bukan sekadar hitungan kilometer. Ada tenaga yang terkuras, biaya yang harus disiapkan, dan waktu yang dipertaruhkan demi satu hal: tetap bertahan hidup.
Nurhayati pernah merasakan beratnya perjalanan itu. Setiap pekan, ia harus menempuh jarak antara 80 hingga 95 kilometer ke rumah sakit lain untuk menjalani cuci darah. Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari perjuangannya menjaga kehidupan.
Namun, sejak layanan hemodialisis hadir di RSUD dr. Zubir Mahmud, Aceh Timur, perjalanan itu tak lagi harus ditempuhnya. Kini, Nurhayati dapat menjalani perawatan lebih dekat dari rumah.
“Dulu saya harus menempuh perjalanan antara 80 hingga 95 kilometer ke rumah sakit lain untuk mendapatkan bantuan cuci darah setiap pekannya,” tuturnya.
Perubahan itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi pasien yang bergantung pada perawatan rutin, hadirnya layanan kesehatan di daerah sendiri berarti lebih dari sekadar kemudahan. Ia memberi ruang bagi kehidupan untuk terus berjalan.
Di balik layanan yang kini dinikmati Nurhayati, tersimpan kisah tentang sebuah daerah yang pernah kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, serta industri gas alam yang ikut meninggalkan jejak pembangunan.
Di Aceh Timur, gas dari perut bumi tak hanya berbicara tentang energi dan investasi. Ia juga menjadi bagian dari cerita tentang kehidupan yang dirawat.
Ketika Aceh Timur membutuhkan rumah sakit
Sebelum RSUD dr. Zubir Mahmud berdiri, masyarakat Aceh Timur harus menempuh perjalanan ke rumah sakit di daerah lain untuk mendapatkan berbagai tindakan medis.
Rumah sakit di Kota Langsa menjadi salah satu tujuan utama, dengan waktu tempuh yang dapat mencapai dua jam dari sejumlah wilayah.
Saat itu, fasilitas kesehatan yang tersedia di Idi masih berupa Puskesmas.
Keterbatasan layanan membuat warga harus mencari penanganan lebih lanjut ke luar kabupaten, terutama ketika membutuhkan tindakan medis yang tidak dapat dilakukan di tingkat puskesmas.
Direktur RSUD dr. Zubir Mahmud, dr. Edy Gunawan, MARS, menjelaskan bahwa rumah sakit tersebut berawal dari Puskesmas Idi.
“Awalnya rumah sakit ini adalah sebuah Puskesmas. Masyarakat Aceh Timur waktu itu untuk melakukan berbagai tindakan medis harus ke RSUD Kota Langsa dengan jarak tempuh dua jam karena tidak adanya rumah sakit di Aceh Timur,” kata Edy.
Kebutuhan akan rumah sakit semakin penting setelah Kota Langsa menjadi daerah administratif tersendiri pada 2001.
Sebelumnya, Langsa merupakan bagian dari Aceh Timur sekaligus pusat pemerintahan kabupaten. Setelah pemekaran, ibu kota Aceh Timur dipindahkan ke Idi Rayeuk.
Puskesmas Idi yang berada di Desa Tanoh Ano, Kecamatan Idi Rayeuk, kemudian menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan layanan kesehatan di kabupaten tersebut.
Pada 10 Desember 2014, Puskesmas Idi resmi berganti nama menjadi RSUD dr. Zubir Mahmud. Nama itu diambil dari seorang dokter yang dikenal memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Zubir Mahmud dan Zaini Abdullah, yang kemudian meresmikan rumah sakit tersebut, memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah perjuangan Aceh.
Perubahan status itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh Timur.
Dari Blok A, hadir fasilitas kesehatan
Pembangunan RSUD dr. Zubir Mahmud tidak terlepas dari pengembangan Lapangan Gas Blok A di Aceh Timur. Rumah sakit tersebut hadir sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat atau community development yang berkaitan dengan kegiatan investasi di sektor migas.
PT Medco E&P Malaka, Kris Energy, dan JAPEX turut berkontribusi dalam pembangunan rumah sakit dengan komitmen pendanaan sebesar Rp75 miliar. Ketiga perusahaan tersebut merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mendapat izin pemerintah Indonesia untuk mengelola Lapangan Gas Blok A sejak 2006.
Rumah sakit yang berada di Desa Seunebok Barat, Kecamatan Idi Timur, itu dibangun di tepi jalan nasional Medan–Banda Aceh. Pada 23 November 2015, RSUD dr. Zubir Mahmud diresmikan dan mulai menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan masyarakat Aceh Timur.
Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan seluas 8.199 meter persegi, dengan kapasitas 109 tempat tidur. Berbagai layanan tersedia, mulai dari instalasi gawat darurat, rawat jalan, empat ruang operasi, hingga layanan hemodialisis dan fasilitas penunjang lainnya.
Pengelolaan rumah sakit berada di bawah Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. Dengan demikian, kontribusi pembangunan dari sektor migas kemudian menjadi fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kehadiran rumah sakit ini juga memperpendek jarak antara warga dan pelayanan medis. Masyarakat tidak lagi harus selalu bergantung pada rumah sakit di kabupaten atau kota lain untuk mendapatkan penanganan kesehatan.
Manfaat yang terus berlanjut
Salah satu layanan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat adalah hemodialisis atau cuci darah. Layanan ini mulai beroperasi pada Mei 2018, menjadi jawaban bagi pasien gagal ginjal yang sebelumnya harus menjalani perawatan di luar Aceh Timur.
Bagi Nurhayati, kehadiran layanan tersebut memangkas perjalanan panjang yang harus ditempuh setiap pekan. Waktu dan tenaga yang sebelumnya tersita di perjalanan kini dapat digunakan untuk menjalani perawatan dengan lebih dekat.
Manfaat rumah sakit juga dirasakan oleh Ami, warga Simpang Ulim, Aceh Timur. Sebagai pasien yang menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut, Ami mendapat arahan dokter untuk terus melakukan kontrol dan mengonsumsi obat sesuai resep.
“Arahan dokter saya harus menjalani kontrol berlanjut,” ujarnya.
Kisah para pasien itu memperlihatkan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan tidak berhenti pada bangunan dan peralatan. Nilai sesungguhnya terletak pada layanan yang terus berjalan dan kemampuan masyarakat untuk mengakses perawatan ketika membutuhkannya.
Kontribusi perusahaan migas di Aceh Timur juga berlangsung melalui berbagai program sosial lainnya. Saat pandemi COVID-19, Medco E&P Malaka turut memberikan dukungan berupa fasilitas pemeriksaan PCR dan alat pelindung diri (APD).
Program kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasi juga menjadi bagian dari kegiatan sosial perusahaan. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh Timur, Abdullah, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai membantu masyarakat menjaga kesehatan.
“Bahkan kegiatan sosial itu sudah setiap tahun dilakukan perusahaan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus terwujud secara luas di seluruh kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur, karena langkah ini sangat membantu masyarakat dalam menjaga kesehatan dan peningkatan imunitas tubuh sejak dini,” kata Abdullah.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperluas akses pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah kegiatan industri.
Menjaga manfaat, mengikuti zaman
Manfaat pembangunan juga perlu dijaga agar terus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah perubahan teknologi dan pola kerja, sektor migas maupun dunia media memiliki ruang untuk saling mendukung dalam menyampaikan informasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Edukasi Gathering Medco E&P Malaka bersama jurnalis Aceh Timur pada 28–31 Oktober 2026 di Medan.
Kegiatan tersebut mengangkat pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik, sekaligus peran media dalam mempromosikan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Manager Field Relation Security Medco E&P Malaka, Maulidar Putra, mengatakan perkembangan AI telah menjangkau berbagai sektor, termasuk industri migas dan pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas, bukan menggantikan peran manusia.
“Teknologi AI saat ini sangat maju. Semua sudah menggunakan alat tersebut, termasuk dalam industri migas, penulisan dokumen, desain, dan lain-lain. AI sudah menjadi bagian kehidupan kita saat ini, sehingga konteks AI kami pilih untuk mendukung kinerja, bukan pengganti,” kata Maulidar.
Dalam dunia jurnalistik, pemanfaatan AI tetap harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab etik. Teknologi dapat membantu proses kerja, tetapi akurasi informasi, verifikasi, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik tetap menjadi tanggung jawab wartawan.
Di sisi lain, media juga memiliki peran dalam memperkenalkan produk UMKM daerah kepada khalayak yang lebih luas. Publikasi yang tepat dapat membantu pelaku usaha menjangkau pasar baru dan mendorong perputaran ekonomi lokal.
Gas memang tak punya rupa, tak pula bisa digenggam. Namun, dari perut bumi Aceh Timur, ia membawa cerita yang lebih luas dari sekadar energi. Ada rumah sakit yang berdiri, ada perjalanan pasien yang kian dekat, dan ada harapan yang perlahan tumbuh. Barangkali begitulah cara bumi berbagi: yang keluar berupa gas, yang tertinggal adalah manfaat.


