Oleh: Infoacehtimur.com
Tepat 16 tahun setelah wafatnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 3 Juni 2010, Aceh berdiri di persimpangan sejarah yang berbeda dari masa ketika konflik bersenjata masih membelah kehidupan masyarakat.
Pria yang dikenal sebagai pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu meninggalkan dunia pada usia 84 tahun, lima tahun setelah lahirnya Perjanjian Damai Helsinki 2005 yang mengakhiri puluhan tahun konflik antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia. Hari ini, enam belas tahun kemudian, warisan terbesar yang ditinggalkannya bukan lagi perlawanan bersenjata, melainkan perdamaian yang memungkinkan Aceh membangun masa depannya melalui jalur politik dan demokrasi.
Bagi generasi yang lahir setelah damai, cerita tentang razia, kontak senjata, daerah operasi militer, dan ketakutan yang menyelimuti kampung-kampung di Aceh mungkin hanya tinggal catatan sejarah. Namun bagi mereka yang pernah hidup dalam masa konflik, perubahan yang terjadi sejak Helsinki adalah sesuatu yang nyata.
Dari Medan Konflik ke Arena Politik
Salah satu capaian terbesar pasca-perdamaian adalah transformasi perjuangan dari senjata menuju politik.
Melalui Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), Aceh memperoleh kewenangan khusus yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Mantan kombatan dan masyarakat sipil dapat mendirikan partai politik lokal, mengikuti pemilihan umum, serta berkompetisi secara demokratis untuk menentukan arah pembangunan Aceh.
Kehadiran partai lokal seperti Partai Aceh dan Partai Nanggroe Aceh menjadi bukti bahwa aspirasi politik yang dahulu disuarakan melalui konflik kini disalurkan melalui mekanisme demokrasi.
Di sisi lain, Aceh juga memperoleh kekhususan dalam penerapan Syariat Islam melalui berbagai lembaga seperti Wilayatul Hisbah (WH) dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Kekhususan ini menjadi bagian dari identitas politik dan sosial Aceh pasca-perdamaian.
Damai yang Mengubah Kehidupan
Tidak dapat dipungkiri, keberhasilan terbesar dari proses perdamaian adalah berhentinya kekerasan.
Masyarakat Aceh tidak lagi hidup dalam bayang-bayang operasi militer, penyisiran, ataupun kontak senjata yang pernah menjadi bagian dari keseharian selama puluhan tahun. Anak-anak dapat bersekolah tanpa rasa takut, petani dapat menggarap sawah dengan tenang, dan aktivitas ekonomi berjalan lebih normal dibandingkan masa konflik.
Demokrasi juga berkembang relatif stabil. Pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota berlangsung secara rutin dan damai. Pergantian kepemimpinan terjadi melalui kotak suara, bukan melalui konflik.
Dalam konteks rekonsiliasi, banyak pengamat menilai perdamaian Aceh sebagai salah satu proses penyelesaian konflik paling berhasil di dunia.
Dana Otsus dan Harapan Kesejahteraan
Sebagai bagian dari implementasi perdamaian, pemerintah pusat mengalokasikan Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah sejak tahun 2008.
Dana tersebut digunakan untuk membangun jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga berbagai program sosial yang ditujukan untuk mengejar ketertinggalan Aceh akibat konflik dan bencana tsunami.
Secara fisik, banyak perubahan yang terlihat. Infrastruktur semakin baik, akses antarwilayah semakin terbuka, dan layanan publik mengalami peningkatan dibandingkan dua dekade lalu.
Namun pertanyaan yang terus muncul adalah: apakah kesejahteraan masyarakat telah tumbuh secepat pembangunan fisiknya?
Janji Damai yang Belum Sempurna
Di balik keberhasilan menjaga stabilitas keamanan, masih tersimpan sejumlah pekerjaan rumah yang belum selesai.
Sejumlah tokoh politik Aceh menilai implementasi penuh MoU Helsinki masih jauh dari harapan. Beberapa butir kesepakatan dinilai belum terealisasi secara maksimal, termasuk persoalan pengelolaan sumber daya alam dan pembagian hasil minyak serta gas bumi yang menjadi salah satu poin penting dalam perundingan damai.
Kritik juga muncul terhadap ketergantungan ekonomi Aceh yang masih tinggi terhadap belanja pemerintah. Perekonomian daerah belum sepenuhnya mampu menciptakan mesin pertumbuhan baru yang mandiri dan berkelanjutan.
Ironisnya, Aceh masih sering berada dalam daftar provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Sumatera. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengelolaan sumber daya dan dana pembangunan yang selama ini diterima.
Data ekonomi menunjukkan pertumbuhan Aceh masih bertumpu pada sektor pertanian, konstruksi, dan konsumsi rumah tangga. Sementara sektor industri yang mampu menciptakan lapangan kerja besar belum berkembang secara optimal.
Mereka yang Belum Sepenuhnya Merasakan Damai
Tantangan lain adalah persoalan reintegrasi sosial.
Program yang dijalankan melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA) memang telah membantu banyak mantan kombatan dan korban konflik. Namun di berbagai daerah masih ditemukan janda korban konflik, anak yatim, serta mantan kombatan tingkat bawah yang merasa belum sepenuhnya menikmati hasil perdamaian.
Bagi kelompok ini, damai belum sepenuhnya identik dengan kesejahteraan.
Mereka tidak lagi hidup dalam ketakutan, tetapi masih berhadapan dengan persoalan ekonomi, pekerjaan, dan akses terhadap kehidupan yang lebih layak.
Perjuangan Baru Generasi Aceh
Enam belas tahun setelah Hasan Tiro wafat, Aceh telah berubah jauh dibandingkan masa konflik.
Perjuangan yang dahulu berpusat pada identitas, politik, dan senjata kini bergeser ke medan yang berbeda: kemiskinan, pengangguran, korupsi, kualitas pendidikan, dan ketimpangan pembangunan.
Jika dahulu tantangan terbesar adalah menghentikan perang, maka tantangan terbesar hari ini adalah memastikan perdamaian menghasilkan kesejahteraan yang nyata bagi seluruh rakyat Aceh.
Warisan terbesar Hasan Tiro mungkin bukan lagi soal konflik masa lalu, melainkan kesempatan yang dimiliki rakyat Aceh hari ini untuk menentukan masa depannya sendiri secara damai.
Enam belas tahun setelah kepergiannya, pertanyaan yang tersisa bukan apakah Aceh berhasil meraih damai.
Pertanyaannya adalah: mampukah Aceh mengubah damai menjadi kemakmuran yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya?
Sebab sejarah telah membuktikan bahwa perdamaian adalah awal dari perjalanan, bukan garis akhirnya.


