18 Jam Melawan Api di Lhok Leumak: “Ini Bukan Soal Api, Tapi Soal Nyawa”
Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Asap hitam masih membumbung Minggu siang (5/7/2026) di Desa Lhok Leumak, Kecamatan Darul Ihsan. Kobaran api dari sumur minyak tradisional mengamuk seperti tidak mau padam.
Di tengah panas dan deru angin, ada sekelompok orang yang maju, bukan mundur. Mereka adalah tim pemadam kebakaran, BPBD, dan para relawan.
Salah satu warga yang ikut di garis depan, Rahmat Hidayat atau akrab disapa Sayet Juragan, menundukkan kepala. Suaranya serak, tapi penuh syukur.
“Ribuan terima kasih untuk abang-abang pemadam, BPBD, dan semua relawan. Tanpa kalian, entah apa yang terjadi hari ini,” ucapnya.
Sayet menceritakan bagaimana mereka berjibaku selama lebih dari 18 jam. Bukan waktu sebentar.
“Apinya ganas. Siap melahap apa saja. Termasuk manusia,” katanya pelan.
Setiap detik jadi pertaruhan. Arah angin berubah, api ikut berlari. Titik air harus tepat. Langkah harus cepat. Salah sedikit, nyawa bisa jadi taruhan.
“Ini bukan lagi soal memadamkan api. Ini soal hidup para tim. Soal lingkungan sekitar yang bisa ikut terbakar,” ujarnya.

Api akhirnya bisa dijinakkan. Tapi harganya mahal.
“Yang habis bukan cuma air dan APAR. Tapi tenaga, pikiran, psikologi, sampai hati nurani kami semua,” kata Sayet.
Ia melihat sendiri bagaimana para petugas tidak peduli lelah, tidak peduli baju basah kuyup, tidak peduli asap yang menyesakkan dada. Yang mereka pikirkan hanya satu: menyelamatkan orang dan kampung.
Warga Lhok Leumak pun hanya bisa mengomentari dengan satu kata: pahlawan.
“Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah berjuang untuk kami,” ujar seorang ibu yang rumahnya yang dekat dari lokasi kebakaran.
Bagi Sayet, tragedi itu meninggalkan pelajaran. Bahwa di saat genting, keberanian dan kebersamaanlah yang jadi pemadam paling ampuh.
“Api bisa padam. Tapi semangat orang-orang ini tidak akan pernah padam,” tutupnya.