Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Bagi anak-anak 90-an di desa Aceh Timur, nama “Klayu” atau “Keylayu” pasti membangkitkan memori. Buah kecil dengan bentuk mirip biji kopi tapi bukan keluarga kopi ini dulu jadi camilan gratis seusai pulang pengajian jam 16.00 WIB.
Daging buahnya tipis, rasanya manis sepet khas. Pohonnya tumbuh di hampir semua desa, dari ujung timur sampai ujung barat. Saat musim tiba, anak-anak berbondong-bondong memanjat, memetik, lalu makan beramai-ramai di bawah pohon.
Tapi kini, buah itu terasa asing. Pohonnya makin jarang terlihat. Entah karena habitatnya berkurang, atau karena kita yang sudah tua dan tak lagi berkeliaran mencari buah liar.
Selasa 23 Juni 2020, seorang admin media lokal di Aceh Timur kembali dipertemukan dengan Klayu. Buah itu dibeli dari adik-adik yang baru pulang sekolah dan dibawa ke warung kopi oleh seorang senior.
Baca Juga: Lebaran Tak Lagi Meriah Semakin Dewasa: Nostalgia Masa Kecil dan Tantangan Baru
Baca Juga: 16 Tahun Hidup Bersama: Suami Tega Bunuh Istri Tercinta
“Eummm… rasanya masih manis. Tapi suasana seperti bertemu masa kecilku sendiri sudah tidak ada lagi. Namun memori itu membuka lagi kenangan dahulu,” kenangnya.
Klayu bukan sekadar buah. Ia saksi bisu masa kecil anak desa: tanpa HP, tanpa jajan mahal, cukup dengan senyum dan tangan kotor memetik buah dari pohon tetangga.
Kini, saat buah itu makin langka, Klayu berubah jadi pengingat. Bahwa ada banyak hal kecil dari kampung halaman yang diam-diam membentuk kita, lalu hilang tanpa sempat kita sadari.

