Infoacehtimur.com | ACEH TIMUR – Senin siang itu berbeda di Gampong Paya Gaboh, Idi Tunong. Bukan soal megahnya panggung atau ramainya tamu. Tapi tentang 75 pasang mata kecil yang berkaca-kaca, menanti uluran kasih.
Itulah momen ketika Persatuan Pemuda Serantau Gampong Paya Gaboh menggelar santunan anak yatim, Senin (2/11/2026). Sebanyak 75 anak yatim dari pelosok Idi Tunong berkumpul. Ada yang datang menggandeng adiknya, ada yang diantar neneknya, dengan baju terbaik yang mereka punya.
Tangis haru tak terbendung saat satu per satu nama dipanggil. Pelukan hangat, bingkisan kasih, dan doa yang tulus menjadi penguat bahwa mereka tidak sendiri.
“Kami ini pemuda kampung biasa. Tapi kami tidak mau diam melihat adik-adik yatim di sekeliling kami berjalan sendiri. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Ini bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi soal kita hadir untuk mereka,” ujar Ketua Persatuan Pemuda Serantau, Bachtiar Abdurahman (Toke Ya) dengan suara bergetar.
Kegiatan ini bukan sekadar bagi amplop. Ini adalah pesan: Kalian tetap punya abang, punya ayah, punya kampung yang menjaga kalian.
Kehadiran Muspika Idi Tunong menjadi bukti bahwa gerakan kecil dari gampong ini mendapat restu besar.
Camat Idi Tunong Adnan, S.Ag., yang hadir langsung, tak kuasa menyembunyikan bangganya:
“Terus terang saya terharu. Di saat banyak pemuda sibuk dengan gawainya, pemuda Paya Gaboh justru sibuk memikirkan anak yatim. Ini contoh nyata pemuda yang pulang membawa manfaat. Pemerintah kecamatan sangat bangga dan akan selalu mendukung gerakan seperti ini,” kata Adnan.
Senada, Kapolsek Idi Tunong Wagiman, S.H., dan Danramil Kapten Inf. Noverlan yang duduk berbaur bersama anak-anak, menegaskan sinergi itu penting.
“Kami TNI-Polri tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga hati masyarakat. Melihat anak-anak ini tersenyum, itu kebahagiaan kami juga,” ujar salah satu dari mereka.
Puncaknya adalah tausiah dari Abiya Jeunieb. Suasana yang tadinya haru, berubah menjadi hening. Abiya mengingatkan, memuliakan anak yatim bukan sekadar sedekah, tapi adalah kunci keberkahan sebuah kampung.
KOMENTAR REDAKSI:
Apa yang terjadi di Paya Gaboh hari ini adalah tamparan lembut bagi kita semua. Di tengah zaman yang individualistis, di mana semua diukur dengan viral dan like, pemuda Paya Gaboh mengajarkan arti pulang yang sebenarnya.
Mereka tidak menunggu jadi kaya untuk berbagi. Mereka tidak menunggu jadi pejabat untuk peduli. Mereka bergerak dengan apa yang ada.
75 anak yatim itu pulang tidak hanya membawa santunan. Mereka pulang membawa cerita, bahwa di kampungnya masih ada yang peduli, masih ada yang mengingat nama mereka.
Dari Paya Gaboh, untuk Idi Tunong, untuk Aceh Timur. Sebuah pelajaran bahwa kepedulian tidak butuh panggung besar, cukup hati yang besar.
Semoga gerakan ini menular ke gampong-gampong lain.
