Ka’bah baginya cuma gambar di TV butut. Masjid Nabawi hanya cerita dari orang. Makam Rasulullah hanya ia kunjungi dalam mimpi.
Tapi tiap malam, rindu itu ia pelihara. Tiap subuh, ia titipkan di sajadah. Dan hari ini, rindu 14 tahun itu akan dibayar lunas di depan Baitullah dan tinggal menghitung hari.
Nek Maimunah berangkat bukan sendiri. Putrinya, Nurhayati, rela menggantikan jatah abangnya yang berhalangan. “Biar Mamak ada yang pegang kalau gemetar waktu thawaf,” kata Nurhayati, menahan tangis.
Usia Boleh 95, Tapi Iman Tak Pernah Tua, Langkahnya pelan. Napasnya pendek. Tapi Nek Maimunah membuktikan satu hal, Allah tidak memanggil yang kuat. Allah menguatkan yang dipanggil.
Di usia 95, ia ajarkan kita bahwa mimpi tidak punya tanggal kedaluwarsa. Bahwa jajan yang disisih dengan sabar, bisa jadi tiket ke surga dunia.
11 Mei nanti ia masuk asrama. 12 Mei ia terbang. Dari rumah sederhana di Seuneubok Bace, menuju rumah Allah.
“Kami cuma minta satu,” bisik Nurhayati. “Doakan Mamak kami jadi haji mabrur. Doakan Mamak kuat sampai pulang.”

