ENAM BULAN JALAN MATI, JEMBATAN PATAH: Warga Buka Jalan Sendiri, BPJN Cuma “Kaji & Imbau”
Enang-Enang, Nadi Ekonomi Kopi Aceh Dibiar Hancur — Darurat atau Ditunda Terus?
Infoacehtimur.com | Aceh — Enam bulan sudah. Sejak bencana meteorologi meluluhlantakkan Ruas Jalan Enang-Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo, tidak ada alat berat pemerintah yang masuk. Yang ada hanya cangkul, keringat, dan solidaritas warga Pintu Rime Gayo bersama perantau Gayo. Swadaya. Hasilnya? Badan jalan yang terkubur longsor akhirnya bisa dilewati lagi per Rabu, 27 Mei 2026. Tapi Jembatan Enang-Enang? Masih bangkai. Putus total.
Ini bukan jalan tikus. Ini urat nadi Aceh Tengah – Bener Meriah menuju pesisir Bireuen. Dari jalur inilah kopi Gayo, komoditas kebanggaan Indonesia, diekspor ke belahan dunia. Tapi hari ini, jalur ekonomi senilai miliaran itu dibiar mati suri. Ironis.
Datang, Foto, Lalu Bilang “Pakai Jalur Alternatif Saja”
Setelah warga pontang-panting buka jalan sendiri, BPJN Aceh baru muncul. Plt. Kepala BPJN Aceh Zulkarnaini turun 28-29 Mei 2026. Ketemu Bupati Tagore Abubakar. Tinjau lokasi. Hasilnya? Bukan kepastian perbaikan. Bukan tanggal mulai kerja. Yang keluar: imbauan.
“Kajian geoteknik masih berjalan. Tanah masih labil. Demi keselamatan, masyarakat diminta tetap pakai jalur alternatif.”
Baca Juga: Patungan Warga-Perantau, Jalan Enang-enang Bener Meriah yang 6 Bulan Lumpuh Akhirnya Terbuka
Baca juga: Bang Thaib: Pena Tajam Dibalik Secangkir Kopi
Baca Juga: Aceh Bukan Penghasil Kopi Terbanyak di Indonesia, Ini 10 Besar Versi BPS
Aman? Mungkin untuk presentasi. Tapi tidak untuk sopir truk kopi yang ongkosnya membengkak. Tidak untuk petani yang hasil panennya busuk di jalan. Tidak untuk warga sakit yang harus muter jauh ke rumah sakit. BPJN bilang “komitmen”, “koordinasi”, “berkelanjutan”. Warga bilang: “Kami butuh jalan, bukan wacana.”
Data di lapangan telanjang: pendekat jembatan hancur, satu sisi putus total, tanah masih rembes walau cuaca cerah. BPJN akui kerusakannya “kompleks dan berat”. Ya, kami tahu berat. Tapi enam bulan itu waktu cukup untuk rapat 100 kali. Cukup untuk kajian berlapis. Yang belum cukup: keberanian memindahkan alat berat ke Enang-Enang.
Apresiasi Tidak Mengaspal Jalan
BPJN memuji semangat gotong royong warga. Kami juga salut. Tapi pujian tidak bisa menahan longsor susulan. Pujian tidak bisa menopang truk 20 ton. Swadaya warga hanya buka sebagian titik longsor. Titik krusial jembatan dan longsoran besar tetap menggantung. Negara tidak boleh cuci tangan dengan kalimat “sinergi pemerintah dan masyarakat” sementara bebannya 100% dipikul masyarakat.
HALAMAN SELANJUTNYA


