Infoacehtimur.com | Darul Aman – Suasana penuh kebersamaan dan semangat gotong royong mewarnai Gampong Keumuneng Sa, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, pada Rabu (24/06/2026). Masyarakat setempat kembali melaksanakan tradisi adat Khanduri Bubur Asyura atau yang lebih dikenal masyarakat Aceh dengan sebutan Le Bu Kanji Asyura, sebuah tradisi turun-temurun yang selalu hadir setiap memasuki 10 Muharram.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan berkumpul di meunasah gampong. Kaum ibu sibuk menyiapkan bahan-bahan, sementara para pemuda dan tokoh masyarakat bergotong royong mengaduk bubur dalam kuali-kuali besar yang mengepul harum. Kebersamaan ini menjadi pemandangan khas yang memperlihatkan kuatnya nilai persaudaraan dan kekompakan masyarakat Aceh.
Khanduri Bubur Asyura bukan sekadar kegiatan memasak bersama. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang mengandung nilai religius, sosial, dan filosofis yang mendalam. Bubur Asyura diracik dari puluhan bahan pilihan, mulai dari berbagai jenis kacang-kacangan, jagung, ubi, pisang, singkong, hingga aneka sayuran yang melambangkan keberagaman rezeki serta kekayaan alam yang dianugerahkan Allah SWT kepada masyarakat.
Baca Juga: Peringati Asyura, Bupati Al-Farlaky: Jadikan Sejarah sebagai Pendidikan Keluarga
Baca Juga: Beda Puasa Tarwiyah dan Arafah: Sejarah, Keutamaan, dan Bacaan Niat
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat Aceh, tradisi ini juga dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS yang mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan setelah banjir besar dan mengolahnya menjadi hidangan untuk para pengikut yang selamat. Karena itu, Bubur Asyura menjadi simbol rasa syukur atas nikmat, keselamatan, dan keberkahan yang diberikan Allah SWT.
Setelah matang, bubur kemudian dibagikan kepada seluruh warga gampong tanpa memandang status sosial. Sebagian juga disalurkan kepada anak yatim, fakir miskin, serta lembaga pendidikan agama seperti dayah. Tradisi berbagi ini menjadi cerminan nilai kepedulian sosial yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Pelaksanaan Khanduri Bubur Asyura juga bertepatan dengan datangnya Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan melaksanakan Puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar, yakni dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis Rasulullah SAW.
Selain berpuasa, masyarakat juga memanfaatkan momentum bulan Muharram untuk memperbanyak ibadah, berzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta menyantuni anak yatim. Nilai-nilai inilah yang menjadikan tradisi Khanduri Bubur Asyura tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi di Aceh.
Bagi masyarakat Gampong Keumuneng Sa, tradisi ini bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan warga, serta menjaga identitas adat dan budaya Aceh yang kaya akan nilai-nilai keislaman.
“Khanduri Bubur Asyura bukan hanya tentang semangkuk bubur, tetapi tentang kebersamaan, rasa syukur, dan warisan budaya yang menyatukan masyarakat dalam semangat ukhuwah dan gotong royong.”

