Close Menu
    info terkini

    Perempuan Menanggung Beban Ganda Pasca Bencana Aceh

    Facebook Instagram YouTube
    INFO ACEH TIMUR
    REDAKSI
    • Aceh
      • Info Utama
      • Aceh Tamiang
      • Aceh Utara
      • Kota Langsa
    • Aceh Timur
      • Breaking News
    • Nasional
      • Internasional
      • Beasiswa
      • Autotekno
    • Humaniora
      • Citizen
      • Opini
      • Sejarah
    • DPRK Aceh Timur
    • Info Loker
    • Indeks Berita
    INFO ACEH TIMUR
    Home > Perempuan Menanggung Beban Ganda Pasca Bencana Aceh
    Aceh

    Perempuan Menanggung Beban Ganda Pasca Bencana Aceh

    IlhamMay 2, 2026
    Share: WhatsApp Facebook Copy Link
    Share
    WhatsApp Facebook Copy Link

    Jam dinding di posko pengungsian menunjukkan pukul 04.00 WIB. Langit masih hitam pekat, hanya diterangi oleh remang lampu neon darurat yang berkedip-kedip, nyaris mati. Udara dingin lembab menusuk tulang, membawa aroma lumpur sungai yang belum juga kering.

    Di ujung antrian toilet umum yang terbuat dari bilah bambu seadanya, Hartati (40) berdiri kaku. Kakinya menggigil menahan dinginnya tanah berlumpur yang merembes masuk ke sela-sela jari kakinya.

    Demo

    Di depannya, lima perempuan lain menunduk, memeluk handuk atau kain sarung ketat ke dada mereka seperti perisai terakhir menjaga martabat.

    Tidak ada kunci pada pintu kayu toilet itu. Engselnya longgar. Setiap kali terdengar derap langkah kaki laki-laki entah petugas keamanan atau pengungsi lain yang hendak buang air kecil di semak belukar dekat sana, kelima perempuan itu serentak menahan napas.

    Bahu mereka menegang. Mata mereka terpaku pada celah bawah pintu, waspada terhadap bayangan yang mungkin muncul.

    Azan Subuh belum berkumandang dari masjid terdekat yang atapnya masih setengah runtuh, namun antrean sudah memanjang. Tidak ada obrolan. Hanya suara napas pendek-pendek dan desau angin malam.

    Mereka semua mengantuk, mata mereka berat, namun dorongan untuk segera kembali ke tenda sebelum anak-anak bangun dan menangis karena lapar, membuat mereka tetap terjaga.

    Hartati adalah janda dua anak dari Kecamatan Bendahara. Dua pekan lalu, banjir bandang dengan arus deras setinggi dua meter menerjang rumahnya.

    Dalam hitungan menit, lemari pakaian, foto-foto kenangan, dan satu-satunya sertifikat tanah miliknya hanyut terbawa arus keruh.

    Kini, ia tinggal di tenda terpal biru berukuran 3×4 meter yang pengap, bersama putra sulungnya yang berusia 12 tahun dan putri bungsunya yang baru 5 tahun.

    Malam sebelumnya adalah siksaan tersendiri. Anak bungsunya terbangun tiga kali karena batuk kering yang mengguncang dada kecilnya.

    Suara batuk itu memecah heningnya malam pengungsian, menyayat hati ibu-ibu di tenda sebelah.Tidak ada obat sirup. Tidak ada nebulizer. Yang Hartati miliki hanyalah telapak tangannya yang kasar, diusapkan pelan ke punggung anaknya yang kurus.

    Hartati tidak tidur semalaman. Ia duduk bersila, bergumam membaca doa-doa pendek dalam bahasa Aceh, suaranya bergetar halus agar tidak membangunkan tetangga tenda.

    “Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu ini. Jangan biarkan anak-anak melihat ibunya lemah. Kalau saya panik, anak-anak tambah takut,” bisiknya lirih pagi itu, matanya menghindari kontak langsung. Ia mencoba tersenyum pada wartawan yang datang, namun sudut bibirnya tremor. Air mata yang sudah tertahan sejak rumah mereka hanyut, hampir tumpah lagi. Namun, ia menelannya kembali.

    Air Keruh dan Martabat Remaja

    Lima puluh meter dari tenda Hartati, Salmiah (34) sedang bergulat dengan ember plastik berwarna merah. Wajahnya sembab, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas di bawah sinar pagi yang mulai masuk.

    Salmiah tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Suaminya, seorangburuh tani, kini sibuk membantu di dapur umum sejak fajar. Tapi bagi Salmiah, pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.

    Ia menuangkan air dari jeriken besar ke dalam ember. Air itu berwarna cokelat susu, kental. Ia mengenduskannya pelan, lalu memejamkan mata sebentar, seolah berharap bau itu hanyalah ilusi.

    “Bau lumpurnya masih kuat. Seperti bau tanah kuburan,” katanya datar. Ibu-ibu di sini memiliki ritual pahit. Mengendapkan air selama berjam-jam, menunggu partikel lumpur turun ke dasar, lalu mengambil air bening di bagian atas dengan hati-hati menggunakan gayung. Itu pun tidak menjamin bersih.

    Namun, anak-anak kecil tetap meminumnya karena rasa haus lebih mendesak daripada rasa jijik. Bau tanah basah yang anyir menyengat hidung setiap kali tutup jeriken dibuka, menjadi parfum harian mereka. Beberapa hari lalu, Salmiah menghadapi momen yang membuatnya ingin menangis tanpa suara. Anak sulungnya, seorang gadis berusia 15 tahun, mengalami menstruasi pertama kalinya.

    Sebuah momen yang seharusnya dirayakan dengan syukuran kecil dan hadiah dari nenek, kini berubah menjadi mimpi buruk privasi. Tidak ada pembalut higienis. Salmiah terpaksa menyobek sarung tenun bekas kain tebal warisan ibunya menjadi beberapa lapis panjang.

    Tidak ada kamar mandi tertutup. Gadis remaja itu harus mengganti kain darah tersebut di dalam tenda yang sempit, sambil bersembunyi di balik selimut tipis, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, tapi karena malu.

    Ia takut adik laki-lakinya yang berusia 7 tahun melihat, atau worse, tetangga pria yang lewat di depan tenda mendengar suara gesekan kain.

    “Ada bantuan pembalut dari relawan minggu lalu,” kata Salmiah, suaranya tercekat. “Tapi ukurannya untuk orang dewasa, dan pakaian dalam pemberiannya terlalu besar untuk tubuh anak remaja. Anak saya jadi tidak nyaman, malah iritasi. Dia merasa tidak dihargai sebagai perempuan yang sedang tumbuh.

    ”Salmiah tidak pernah protes keras. Ia hanya menatap kosong ke arah genangan air di depan tendanya. Matanya yang sembab bercerita lebih banyak dari pada kata-katanya: tentang lelah yang tak berujung, tentang beban mengurus anak, memasak dengan kayu bakar basah, dan menjaga harga diri di tempat yang melucuti privasi.

    Menanti Kelahiran di Atas Lumpur Kering

    Di Kecamatan Manyak Payed, suasana pasca-banjir meninggalkan lukayang tak kalah miris. Genangan air besar telah surut, namun menyisakan lapisan lumpur tebal dan licin ketika hujan yang memenuhi lorong-lorong antar tenda, membuat setiap langkah menjadi perjuangan.

    Di sini, Rosnidar (28), yang hamil tujuh bulan, menghadapi kecemasan yang berbeda. Tendanya berada di kontur tanah yang lebih rendah, area yang terakhir kali kering setelah banjir surut. Meski hujan deras sudah berhenti, tanah di bawah terpalnya masih lembap dan dingin.

    Malam sebelumnya, angin kencang menerpa tenda, membuat tiang-tiang penyangga bergoyang dan debu serta sisa lumpur kering beterbangan masuk melalui celah-celah kain. Rosnidar terbangun kaget, bukan karena basah kuyup, tapi karena ketakutan tendanya roboh menimpa mereka. Ia langsung berdiri, meski kakinya bengkak akibat terlalu lama duduk di atas tanah yang tidak rata, dan menggendong anak pertamanya yang berusia 3 tahun. Ia berdiri lama di tengah kegelapan, menenangkan anaknya yang menangis, sambil mengelus perutnya yang keras dengan tangan gemetar.

    Pekan lalu, Rosnidar merasakan kontraksi palsu yang menyakitkan. Ia memanggil bidan desa, namun bidan tersebut baru bisa datang tiga hari kemudian.

    Bukan karena jalan terputus air, melainkan karena akses jalan tanah yang berubah menjadi kubangan lumpur pekat setelah hujan turun, membuat kendaraan roda dua maupun empat sulit melintas tanpa terjebak.

    “Saya takut kalau harus melahirkan di sini,” akunya, tangannya erat memegang perut. Matanya nanar menatap langit-langit tenda yang kini kotor oleh noda lumpur cipratan. “Tidak ada tempat bersih untuk bersalin. Tidak ada air hangat karena stok gas habis. Tidak ada ambulans yang berani masuk ke jalur lumpur ini. Jika bayi saya lahir malam hari, siapa yang akan menolong?”.

    Jarak ke Puskesmas terdekat secara teori hanya 40 menit, namun realitanya bisa memakan waktu berjam-jam dengan sepeda motor yang sering selip di jalanan berlumpur licin bekas retakan banjir.

    Layanan kesehatan tidak rutin menjangkau area ini karena kesulitan akses. Makanan yang tersedia di dapur umum umumnya karbohidrat tinggi (nasi dan mi instan) dengan minim protein dan sayur. Asupan gizi untuk ibu hamil, yang krusial untuk mencegah stunting dan komplikasi, hanyalah mimpi di siang bolong di tengah keterbatasan logistik pasca-bencana.

    Ketika Standar Kemanusiaan Hanya Jadi Angka

    Zirah Andini, Koordinator Lembaga Pemberdayaan dan Pendamping Perempuan di Aceh Tamiang, mengamati fenomena ini dengan sangat prihatin.

    Menurutnya, apa yang dialami Hartati, Salmiah, dan Rosnidar bukanlah kasus isolatif, melainkan gambaran sistemik kegagalan respons bencana yang sensitif gender.

    “Perempuan dalam pengungsian menghadapi beban berlapis (multipleburden),” ujar Zirah saat ditemui di posko koordinasi. “Mereka bukan hanya korban bencana alam, tetapi juga korban dari desain pengungsian yang buta gender.”

    Dalam standar kemanusiaan internasional (Sphere Handbook), satu toilet idealnya melayani maksimal 20 orang, harus memiliki pintu yangbisa dikunci dari dalam, pencahayaan yang cukup, dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Air bersih harus tersedia minimal 15 liter perorang per hari, termasuk alokasi khusus untuk kebersihan menstruasi.

    “Realita di Aceh Tamiang? Satu toilet dipakai 50 hingga 60 orang. Pintu tidak bisa dikunci. Lampu padam total selepas Magrib. Ini menciptakan zona rawan kekerasan,” ungkap Zirah.

    Ruang aman (safe space) untuk perempuan nyaris nol. Di antara lautan tenda yang berhimpitan, tidak ada sudut privat untuk berbicara tanpa didengar, apalagi untuk beristirahat mental. Tidak ada ruang konseling bagi korban kekerasan domestik yang statistik global menunjukkan peningkatan drastis pascabencana akibat stres ekonomi dan trauma.

    Tidak ada sudut menyusui yang tertutup. Seorang ibu muda, yang meminta namanya tidak disebutkan, terpaksa menyusui bayinya di dalam tenda yang sesak. Suami dan anak laki-lakinya yang sudah remaja harus memalingkan wajah atau keluar tenda, menciptakan ketidak nyamanan bagi semua pihak.“Privasi adalah kebutuhan dasar manusia, bukan kemewahan,” tambah Zirah.

    Kulit Lecet dan Malu yang Tertelan

    Ketiadaan ruang aman dan air bersih bukan hanya soal psikologis, dampaknya juga merembet ke kesehatan fisik. Lengan kanan Rayyan (4), anak bungsu Salmiah, dipenuhi bintik-bintik merah gatal akibat infeksi kulit (scabies atau dermatitis). Anak itu terus-menerus menggaruk hingga kulitnya lecet dan berdarah. Setiap malam, Salmiah harus membalurkan bedak dingin buatan sendiri sambil menahan tangan kecil anaknya agar tidak menggaruk lagi.

    “Air sungai yang kami endapkan ternyata masih mengandung bakteri. Kami tidak punya sabun anti septik yang cukup,” keluhnya.

    Nasib serupa dialami Hartati. Siang hari, toilet umum yang letaknya persis di samping dapur umum menjadi sumber kecemasan baru. Laki-laki lalu-lalang membawa piring dan galon. Hartati memilih menahan buang air kecil hingga sore, bahkan hingga Maghrib, demi menghindari tatapan atau potensi pelecehan verbal.

    “Pernah suatu kali, saya hampir tidak tahan. Saya berniat buang air di belakang tumpukan kayu bakar,” cerita Hartati, wajahnya memerah karena malu mengenang kejadian itu.

    “Tiba-tiba ada anak kecil lewat. Saya langsung lari kembali ke tenda. Saya pipis di celana. Saya menangis diam-diam di dalam selimut. Rasa malunya itu lebih sakit daripada lapar.”

    Harapan yang Kosong

    Pemerintah Daerah Aceh Tamiang menyatakan bahwa bantuan logistik terus mengalir. Ribuan paket sembako, selimut, dan tenda telah didistribusikan. Namun, para perempuan ini merasa bahwa bantuan tersebut bersifat one-size-fits-all (seragam) dan tidak menyentuh kebutuhan spesifik mereka sebagai perempuan, ibu, dan individu yang membutuhkan privasi.

    “Kami bersyukur mendapat nasi. Tapi kami juga butuh dignity (martabat),” kata Salmiah pelan. Ditengah tenda yang berhimpitan, di antara bau lumpur dan tangisanak-anak, harapan masih menyala kecil. Salmiah bermimpi sederhana. “Saya cuma ingin anak-anak saya bisa sekolah lagi. Ingin Aisyah bisapakai seragam bersih, bukan kain sobek.”

    Banjir mungkin sudah mulai surut di beberapa titik. Lumpur mungkin sudah kering menjadi debu. Namun, bagi Hartati, Salmiah, Rosnidar, dan ratusan perempuan lainnya di pengungsian Aceh Tamiang, beban ganda itu belum hilang.

    Mereka bertahan, memastikan keluarga tetap hidup, merawat luka fisikdan batin, sendirian. Tanpa ada yang menggantikan. Tanpa ada yang benar-benar melihat. Mereka adalah pilar yang retak, namun menolak untuk roboh di tengah gempuran debu. Apakah mereka kuat?. Berapa lama lagi mereka dipaksa untuk menjadi kuat tanpa dukungan yang layak?.

    *Feature-Perempuan ini merupakan atas dukungan Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI).

    Banjir Aceh Tamiang Kuala Simpang
    Demo
    Media Sosial Kami
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • Channel WA
    • Twitter
    • Instagram
    Demo

    Perempuan Menanggung Beban Ganda Pasca Bencana Aceh

    IlhamMay 2, 2026

    Jam dinding di posko pengungsian menunjukkan pukul 04.00 WIB. Langit masih hitam pekat, hanya diterangi…

    Pemkab Aceh Timur Jemput Nelayan Anak Yatim yang Dibebaskan Thailand, Bupati: Ini Bentuk Kehadiran Negara

    May 2, 2026

    PM Toh Bawa “Kisah dari Samudera” ke Art Jakarta Gardens 2026, Cerita Aceh untuk Panggung Nasional

    May 2, 2026
    INFO ACEH TIMUR

    Portal Berita Aceh Timur dan Dunia

    Facebook Instagram YouTube WhatsApp
    terkini

    Perempuan Menanggung Beban Ganda Pasca Bencana Aceh

    May 2, 2026
    terpopuler

    Panglima Rusia KPA Simpang Ulim: Dalang Fitnah Bupati Al-Farlaky Sudah Teridentifikasi

    April 27, 2026
    • Beranda
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    Copyright © 2018 - 2026 PT. Info Aceh Utama.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.