Infoacehtimur.com | Aceh Timur – Bayangkan ini: Anak lahir, masuk SD, semangat ke sekolah. Sampai SMP Kelas VII, atau kelas 1 SMP… lalu berhenti. Nggak lanjut. Itu rata-rata nasib pendidikan warga Aceh Timur usia 25 tahun ke atas hari ini.
Data BPS 2025 mencatat Rata-rata Lama Sekolah RLS warga Aceh Timur cuma 8,8 tahun. Artinya: rata-rata orang dewasa di sini sekolahnya nggak sampai lulus SMP. Kurang dari 9 tahun.
Angka itu bikin sesak. Karena di bawah rata-rata Aceh 9,95 tahun dan nasional 9,07 tahun. Dari 23 kabupaten/kota se-Aceh, Aceh Timur ada di peringkat 21. Hanya 2 tingkat dari paling bawah. Di bawah kita cuma Kota Subulussalam 8,75 tahun.
Baca Juga: Semangat dan Pengorbanan Abdul Aziz, Putus Sekolah Demi Merawat Ayah
Baca Juga: Miris, Bertaruh Nyawa di Negeri Migas Untuk Ke Sekolah, Akibat Jembatan Putus
Sedihnya: Ini Bukan Angka, Ini Nasib
RLS bukan sekadar statistik di kertas. 8,8 tahun itu artinya:
- Banyak yang nggak sempat ngerasain bangku SMA. Nggak kenal seragam putih-abu, nggak ada study tour, nggak ada ijazah buat lamar kerja.
- Daya saing lemah. Pasar kerja modern minta minimal SMA/SMK. Kalau stop di Kelas VII, mau kerja apa?
- Rentan kemiskinan. Pendidikan pendek = akses informasi terbatas = ekonomi susah naik kelas.
Sementara Kota Banda Aceh RLS-nya 13,37 tahun. Hampir setara D1. Lhokseumawe 11,64 tahun, Langsa 11,60 tahun. Jaraknya jauh. Jauh banget.
Tapi… Ada Kabar Baiknya
Di tengah data yang bikin miris ini, ada secercah harapan.
RLS Aceh Timur naik. Tahun lalu 8,48 tahun, sekarang 8,8 tahun. Naik 0,32 tahun atau 3,77% dalam setahun. 5 tahun terakhir naik 0,65 tahun. Pelan, tapi pasti.
Ini bukti: ada anak-anak yang tetap bertahan. Ada orang tua yang tetap nyekolahin anaknya walau susah. Ada guru-guru di pelosok yang tetap ngajar walau gaji telat. Ada kisah kayak Asna yang kayuh sepeda demi sekolah. Mereka inilah yang narik angka itu ke atas, pelan-pelan.
Peringkat 21 Harus Jadi Alarm, Bukan Vonis
Posisi 21 dari 23 itu tamparan. Tapi tamparan yang membangunkan. Karena RLS tinggi = SDM siap kerja, gampang akses informasi, ekonomi lebih berdaya. RLS rendah = sebaliknya.
Artinya investasi di pendidikan bukan pilihan lagi. Ini keharusan. Mulai dari:
- Bangun sekolah layak sampai ke pelosok, biar anak nggak putus karena jarak jauh kayak Asna.
- Beasiswa tepat sasaran buat anak yatim & keluarga kurang mampu.
- Tekan angka putus sekolah. Kelas VII nggak boleh jadi “stasiun terakhir”.
Serambi sudah coba konfirmasi ke BPS Aceh Timur, tapi belum dapat hak jawab. Kita tunggu. Tapi datanya sudah bicara: Aceh Timur harus ngebut.
Penutup: 8,8 Bukan Titik Akhir
Iya, sedih lihat angkanya. Tapi jangan berhenti di sedih. Angka 8,8 ini harus jadi bahan bakar.
Untuk pemerintah: kejar ketertinggalan.
Untuk orang tua: tahan anaknya sampai lulus minimal SMA.
Untuk anak-anak: kalau Asna aja sanggup kayuh sepeda, kalian pasti sanggup buka buku.
Karena 5 tahun lagi, kita mau angka RLS Aceh Timur bukan 8,8 lagi. Tapi 10, 11, bahkan 12.
Biar nggak ada lagi anak Aceh Timur yang “nasibnya stop di Kelas VII”. Biar semua bisa lanjut. Bisa bermimpi. Bisa menang.

